Minggu, 11 Mei 2014

makalah penetasan telur ayam menggunakan mesin tetes sederhana

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam rangka peningkatan kemampuan mahasiswa dalam mata kuliah dasar ternak unggas, maka dilakukan praktikum dengan materi penetasan telur ayam kampung menggunakan mesin penetas sederhana. Mesin penetas system rak putar generasi terbaru alat penetasan telur kapasitas kecil, yang bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi penetasan dengan teknis yang jauh lebih praktis, mudah dan murah. Mesin penetas mitra jaya dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efisiensi penetasan tinggi, kemudahan pengoperasian, model artistic dan ringan. namun semua keunggulan itu juga masih ditambah dengan harganya yang relative  terjangkau, hal ini dikarenakan system produksi yang mengandalkan manajemen dan analisa yang terencana dan matang sehingga menghasilkan proses produksi yang sangat efisien dan efektif ( Anonim. et al., 2013 )
Dengan keprofesionalan kita antara kita bersama dalam melaksanakan heatcheting, semoga akan mendapat hasil yang terbaik.
Kebutuhan masyarakat terhadap daging unggas terutama ayam sangat tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Sementara ketersediaan populasi ayam ( chicken population stock ) sangat berkurang. Berkurangnya populasi ayam tersebut disebabkan karena a). Penyakit, dimana baru - baru ini unggas diserang oleh penyakit yang sangat ditakuti oleh manusia yaitu flu burung. Flu burung ini ditakuti karena bisa menular ke manusia dan bersifat mematikan. Sementara vaksinnya belum bisa ditemukan. b). Kurangnya minat masyarakat dalam pembudidayaan unggas atau ayam, karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, menyebabkan manusia menjadi gengsi dan manja untuk melakukan suatu usaha terutama pada pembudidayaan unggas terutama ayam. ( Anonim. et al., 2003. )
Sehingga melihat permasalahan tersebut maka ditemukanlah suatu cara untuk meningkatkan populasi ayam yaitu dengan cara menetaskan telur. Penetasan telur ini merupakan suatu uapay untuk menyelsaikan permasalahan kebutuhan unggas dimasyarakat baik kebutuhan untuk dikonsumsi maupun kebutuhan untuk dibudidayakan. ( Antonius. et al., 2001 )
Penetasan telur ini menggunakan mesin tetas, dimana fungsinya menggantikan induk asli dari unggas tersebut. Sementara system kerja mesin tetas sama seperti system kerja induk, suhu dan kelembaban bisa diatur oleh orang yang menetaskan. Namun kelebihan dari mesin tetas ini adalah mampu menampung telur yang akan ditetaskan dalam jumlah yang banyak, dari 100oC - 102 oC butir sampai ribuan butir lebih. ( Anonim. et al., 2013 )
Akan tetapi menetaskan telur menggunakan mesin tetas masih belum terlalu banyak diterapkan dimasyarakat, Karena mereka belum memahami teknis penggunaan dari mesin tetas tersebut. Sehingga perlu pengkajian tentang bagaimana cara menggunakan mesin tetas yang baik serta bagaimana cara menetaskan telur. ( Antonius. et al., 2001 )
Mahasiswa terutama mahasiswa fakultas peternakan harus melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang ada, perlu percobaan penetasan telur. Oleh karena itu mahasiswa melakukan praktikum penetasan telur pada mata kuliah teknologi penetasan telur. ( Anonim. et al., 2013. )

1.2     Maksud Dan Tujuan Praktikum
1.      Maksud diadakan praktikum penetasan telur ayam kampung menggunakan mesin penetas sederhana adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang cara dan tehnik penetasan telur.
2.      Tujian diadakan praktikum adalah untuk memberikan ketrampilan kepada mahasiswa dalam pengelolahan penetasan telur.   



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Ayam Kampung
Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut. Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging . Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktivitas peternakan ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu. Ayam kampung merupakan salah satu jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara . Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. ( Anonim. et al., 2003. )
Istilah "Ayam kampung" semula adalah kebalikan dari istilah "ayam ras", dan sebutan ini mengacu pada ayam yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar perumahan. Namun demikian, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian, dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras unggul ayam kampung. Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam buras ( singkatan dari "ayam bukan ras" ) bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya ( tidak sekadar diumbar dan dibiarkan mencari makan sendiri ). Peternakan ayam buras mempunyai peranan yang cukup besar dalam mendukung ekonomi masyarakat pedesaan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pemeliharaannya relatif lebih mudah. ( Riyanto. et al., 2001 )
Sejarah ayam kampung dimulai dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah ( Gallus gallus ). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air. Sampai sekarang sistem upeti dalam arti perpindahan barang ( ayam kampung ) dari desa ke kota masih tetap ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis. ( Anonim. et al., 2003. )

2.2    Penetasan Telur
1.    Pemilihan telur
Seleksi telur yang akan ditetaskan sangatlah penting karena hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan ini. Hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan ini. Hal ini yang perlu di perhatikan dalam penyelesaian antara lain :
a)         Meiliki berat yang normal di bandingkan dengan jenisnya ( untuk ayam kampung beratnya 40 - 43 gr/butir ).
b)        memiliki bentuk normal di bandingkan dengan jenisnya ( untuk ayam kampong ) ukuran maksimal 3 : 4.
c)         Keadaan kulit telurnya bersih dari kotoran.
d)        Rongga udaranya terlihat dengan jelas di bagian tumpul dan tidak berpindah - pindah.
e)         Umur telur lebih dari 5 hari dan cara penyampaiannya berat.
f)         Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8 tidak lebih.
g)        Umur induk jantan dan betina tidak boleh berekurang dari 12 hari.
h)        Tidak terdapat kecacatan seperti retak, permukaan yang terlalu kasar, camkang yang lembek.penebalan kulit di suatu bagian kuning telur dobel dll.
i)          Tidak berbau busuk atau sudah lama di simpan ( ini harus segera di pisahkan dengan telur yang bagus ).



2.    Faktor yang mempengaruhi kualitas telur
1.    Asupan nutrisi pada indik memenuhi syarat.
2.    Kesehatan induknya bagus ( tidak sedang terserang penyakit ).
3.    Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8 tidak lebih.
4.    Umur induk jantan dan betina tidak boleh kurang dari 12 bulan.
5.    Pola perkawinannya terkontrol atau terhindar dari kawin sedarah ( inbreading terjadi rentang 6 generasi ).
3.    Kapasitas mesin tetas
Tabel kapasitas mesin :
Tipe
Kapasitas
( ayam kampung )
P X L X T
( cm )
Daya listrik
Jenis lampu
C 30
30 – 36 Butur
30 x 30 x 32
10 watt
Biasa
C 50
42 – 50 Butir
40 x 30 x 32
10 watt
Hiper
C 75
66 – 75 butir
50 x 30 x 32
20 watt
Biasa
C 100
82 – 100 butir
60 x 30 x 32
20 – 30 watt
Biasa
C 200
164 – 200 butir
90 x 40 x 32
40 watt
Biasa
C 500
500 – 600 butir
40 x 30 x 32
± 200 watt
Elemen
C 1.000
1000 – 1200 butir
60 x 60 x 125
± 250 watt
Elemen

4.  Keunggulan mesin penetas telur :
1.     Menggunakan sistem rak putar, pemutaran semua telur dapat di lakukan dengan sekali mengoperasikan hendel dari luar ( tampa membalik satu persatu ).
2.     Rak telur terdiri dari  penggabungan bahan alumunium dan rangka plastik, dengan ram profil ‘ U , sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat, higenis, ringan dan akurat.
3.     Thermostat menggunakan rangka plastik, penyetelan di lakukan dari lubang fentilasi dan fluktuasi suhu sekitar 100 - 1050C sehingga  aman digunakan, lebih akurat dan praktis.
4.     Pemanas darurat dengan plat pemanas, cukup memakai lampu minyak/ lilin.
5.     Dapat di gunakan berbagai jenis dan ukuran telur unggas, dari bebek, ayam, puyuh, dara, perkutut, wallet, dll, ( untuk ukuran telur burung, rak dapat di pesan khusus ).
6.     Desain lebih artistik, indah, variatif dan ringan.
5.  Tambahan
Standar untuk suhu dalam incubator “ penetasan ’’ tipe forced air adalah 100 untuk jenis forced  –  air incubators dan 102. Untuk type still - air incubatos, suhu pada incubator penetas ( hatching ) di 1 lebih rendah di bandingkan dengan incubator “ pengeraman ” selama 3 hari sebelum penetasan.
Sedangkan untuk type still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau  diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.



BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Materi
1.  Alat dan bahan
a. Alat yang digunakan
Ø Mesin tetas
Ø Kain lap
Ø Bak air
Ø Termometer
Ø lilin
Ø Teropong telur
Ø Korek api

b.   Bahan yang digunakan
Ø Alcohol 96 %
Ø Air hangat
Ø Desinfektan ( INCUNOL )
Ø Air
Ø Telur
Ø Kapur ajaib
Ø Deterjen
Ø Sunlinght

2.      Waktu dan Tempat
a.    Waktu pelaksanaan praktikum akan dilakukan pada bulan Mei - Juni 2014.
b.    Tempat pelaksanaannya dilakukan di laboratorium biokimia fakultas pertanian unaversitas samawa ( UNSA ) sumbawa besar.




3.2  Metode
1.    Persiapan
·      Persiapan mesin
v Langkah persiapan
a)    Hubungkan mesin dengan daya listrik, perhatikan apakah lampu telah menyala dengan normal, jika tidak ganti segera.
b)   Bak air diisi 1/4  bagian dengan air bersih.
c)    Mesin disetel dengan suhunya atau kelembaban, dengan mengatur termostatnya.
Caranya buka lubang fentalasi, posisikan baut sehingga berada tepat ditenga hnya lubangnya, jika suhu kurang putar baut kekiri dan jika terlalu panas putar kekanan perhatikan jarak suhu ketika mati dan hidup fluktasinya maksimal 1020 F ( amati pula perbedaan pada siang dan malam ). suhu sekitar 1050 F untuk 30 menit dapat mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada telur 900 F untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembagan enbrio didalam telur. kembaban 55 – 66% jika kurang dari itu ditambahkan spons basah dibak air,atau ditepi dalam mesin untuk sprey dengan air hangat ( kelembaban yang dibutuhkan berbeda setiap spesies ).
d)   Menstabilkan kondisinya kurang lebih 3 jam ( usahakan ditempatkan diruangan yang tertutup namun cukup fentilasi ).
e)    Telur ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul diatas.
f)    Suhu dan kelembaban dicontrol kembali hingga stabil.
2.    Pelaksanaan
·      Persiapan telur
a.    Seleksi kualitas telur
Semua ciri – ciri telur berkualitas harus di penuhi dan faktor yang mempengaruhi kualitas telur yang di perbaiki dan di penuhi.
b.    Perlakuan pada telur penetasan
1.    Telur yang akan di tetaskan di seleksi sesuai pedoman.
2.    Telur yang akan di tetaskan di bersihkan dengan desinfektan seperti air hangat, alcohol 70% , formalib 40%, incunol 75% dan kalium permangamate ( KMNO4 ) atau jenis desinfektan lainnya secara berlahan dengan menggunakan spons atau kain katun sebagai pembersihnya. ( Awas ! jangan menggunakan kertas gosok / amplas untuk membersikannya ).
3.    Telur yang akan di tetaskan di simpan dengan kisaran suhu 1010 – 1050 C dan kelembaban 55 – 66 %. Cara penyimpanan telur yang benar adalah rongga udara berada di atas ( Awas ! penyimpanan jangan sampai 5 hari setelah keluarnya telur dari induknya ).



c.    Priode penetasan ayam
Kasus
Ayam
Waktu netas ( hari )
Stop pemutaran ( hari )
Tempelatur ( 0F )
Kelembaban ( % )
21
18
100 – 103
55 –  60

d.   Proses penetasan
1.    Yakinkan posisi telur pada rak benar ( jika ruang pada rak masih ada isi dengan spons atau kain, sehingga tidak berantakan ).
2.    Posisikan thermometer ataupun hygrometer pada rak, di antara telur sehingga dapat dengan mudah di pantau melalui kaca.
3.    Durasi pembalikan rak. ( untuk telur ).

No
Hari ke
Perlakuan
1.
1 – 3
Posisi rak datar ( jangan diputar ) .
1.         2.
4 – 18
Telur dibalik 3 – 8 kali  sehari dengan durasi seimbang.
2.            3.
19 – 21
Posisi rak di datarkan kembali dengan ,menunggu penetasan.

4.    Durasi candling untuk di lakukan sebanyak 2 kali yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 14. Untuk telur yang tidak menampakan ciri – ciri telur fertil sehingga di culling atau di ambil. Karena jika sampai mengalami pembusukan akan mempengaruhi telur yang lain. ( Proses ini dapat di lakukan dengan menggunakan teropong telur ).
5.    Durasi pembukaan lubang fentilasi ada 4 periode pada hari 1 – 3 tidak boleh di buka, hari ke 4 di buka ¼  bagian. hari ke 5 di buka ½ bagian, hari ke 6 di buka ¼ bagian dan hari ke 7 hingga menetas di buka penuh.
6.    Perlakuan saat keadan darurat.
a.    Saat listrik putus, letakkan lilin atau lampu minyak plat di bawah mesin, ambil bak air untuk sementara dan letakkan 2 tuas kayu kecil panjang di antara plat lalu masukkan kembali bak air sehingga tidak kontak langsung dengan plat di bawahnya. ( lakukan proses ini dengan cepat atau usahakan suhunya tetap stabil ).
b.   Saat suhu tidak kunjung naik, ganti lampu dengan watt yang lebih besar, untuk 5 watt kecil ganti dengan 5 watt hiper, 5 watt hiper ganti dengan 10 watt dan seterusnya.
c.    Saat lampu pada mesin mati, amati apakah lampunya putus jika benar segera ganti . amati apakah capsul atau ada benda lain yang menekan mikroswich jika benar atur kembali. Jika bukan masalah itu berarti ada kabel yang putus ( Untuk sementara saat ini anda dapat menggunakan pemanas darurat atau gunakan mesin cadangan ).
d.   Saat air pada bak tumpah dalam mesin, cabut aliran listrik untuk sementara, serap air pada mesin dengan spons. Pastikan bagian elektroniknya kering, hidupkan kembali mesin. ( Jika air yang tumpah tidak segera di tangani akan merusak bagian mesin).
e.    Saat kapsul tidak bisa mengembang, amati apakah ada baut menyengat dalam mesin  keluar dari kapsul jika benar kapsul telah bocor. segera ganti dengan yang baru.
f.    Saat anak ayam yang baru menetas di serang semut atau serangga lain, usahakan serangga di dalam keluar dan letakkan penampung air di kaki mesin serta hindari menempel dengan dinding. Bisa juga menggunakan insektisida di luar mesin ( Awas ! ! jangan sampai mengenai telur maupun anak ayam ).
g.   Perlakuan pada DOC / DOD pasca penetasan
Perlakuan pada DOC / DOD dll. Pasca penetasan antara lain pada umur sehari beri vaksinasi  ND dan gurnboro untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Letakkan pada kotak yang aman dan telah di beri lampu dengan suhu di dalam, Beri pakan BR – 1 ( pakan khusus starter ). Air minum dan beri  batu atau sebagainya pada tempat airnya agar anak ayam tidak masuk dalam air atau mati. Jemur pada saat pagi hari dan pastikan kondisinya aman dari predator.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar