BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
rangka peningkatan kemampuan mahasiswa dalam mata kuliah dasar ternak unggas, maka
dilakukan praktikum dengan materi penetasan telur ayam kampung menggunakan
mesin penetas sederhana. Mesin penetas system rak putar generasi terbaru alat
penetasan telur kapasitas kecil, yang bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi
penetasan dengan teknis yang jauh lebih praktis, mudah dan murah. Mesin penetas
mitra jaya dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin
penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efisiensi penetasan
tinggi, kemudahan pengoperasian, model artistic dan ringan. namun semua
keunggulan itu juga masih ditambah dengan harganya yang relative terjangkau, hal ini dikarenakan system
produksi yang mengandalkan manajemen dan analisa yang terencana dan matang
sehingga menghasilkan proses produksi yang sangat efisien dan efektif ( Anonim.
et al., 2013 )
Dengan
keprofesionalan kita antara kita bersama dalam melaksanakan heatcheting, semoga
akan mendapat hasil yang terbaik.
Kebutuhan masyarakat terhadap daging unggas terutama
ayam sangat tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin
meningkat. Sementara ketersediaan populasi ayam ( chicken population stock )
sangat berkurang. Berkurangnya populasi ayam tersebut disebabkan karena a). Penyakit,
dimana baru - baru ini unggas diserang oleh penyakit yang sangat ditakuti oleh
manusia yaitu flu burung. Flu burung ini ditakuti karena bisa menular ke
manusia dan bersifat mematikan. Sementara vaksinnya belum bisa ditemukan. b). Kurangnya
minat masyarakat dalam pembudidayaan unggas atau ayam, karena perkembangan
teknologi yang semakin canggih, menyebabkan manusia menjadi gengsi dan manja
untuk melakukan suatu usaha terutama pada pembudidayaan unggas terutama ayam. (
Anonim. et al., 2003. )
Sehingga melihat permasalahan tersebut maka
ditemukanlah suatu cara untuk meningkatkan populasi ayam yaitu dengan cara
menetaskan telur. Penetasan telur ini merupakan suatu uapay untuk menyelsaikan
permasalahan kebutuhan unggas dimasyarakat baik kebutuhan untuk dikonsumsi
maupun kebutuhan untuk dibudidayakan. ( Antonius. et al., 2001 )
Penetasan telur ini menggunakan mesin tetas, dimana
fungsinya menggantikan induk asli dari unggas tersebut. Sementara system kerja
mesin tetas sama seperti system kerja induk, suhu dan kelembaban bisa diatur
oleh orang yang menetaskan. Namun kelebihan dari mesin tetas ini adalah mampu
menampung telur yang akan ditetaskan dalam jumlah yang banyak, dari 100oC
- 102 oC butir sampai ribuan butir lebih. (
Anonim. et al., 2013 )
Akan tetapi menetaskan telur menggunakan mesin tetas
masih belum terlalu banyak diterapkan dimasyarakat, Karena mereka belum
memahami teknis penggunaan dari mesin tetas tersebut. Sehingga perlu pengkajian
tentang bagaimana cara menggunakan mesin tetas yang baik serta bagaimana cara
menetaskan telur. ( Antonius. et al., 2001 )
Mahasiswa terutama mahasiswa fakultas peternakan harus
melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang ada, perlu percobaan penetasan
telur. Oleh karena itu mahasiswa
melakukan praktikum penetasan telur pada mata kuliah teknologi penetasan telur.
( Anonim. et al., 2013. )
1.2 Maksud Dan Tujuan Praktikum
1. Maksud diadakan praktikum penetasan telur ayam kampung
menggunakan mesin penetas sederhana adalah untuk memberikan pemahaman kepada
mahasiswa tentang cara dan tehnik penetasan telur.
2. Tujian diadakan praktikum adalah untuk memberikan
ketrampilan kepada mahasiswa dalam pengelolahan penetasan telur.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Ayam Kampung
Ayam kampung adalah sebutan
di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya
massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan
untuk kepentingan komersial tersebut. Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam
kampung petelur ataupun pedaging . Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur
sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada
umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktivitas peternakan
ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu. Ayam kampung merupakan salah satu
jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok
nusantara . Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. ( Anonim. et al., 2003. )
Istilah "Ayam
kampung" semula adalah kebalikan dari istilah "ayam ras", dan
sebutan ini mengacu pada ayam yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar
perumahan. Namun demikian, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian,
dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras
unggul ayam kampung. Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam buras ( singkatan
dari "ayam bukan ras" ) bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan
dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya ( tidak sekadar diumbar dan
dibiarkan mencari makan sendiri ). Peternakan ayam buras mempunyai peranan yang
cukup besar dalam mendukung ekonomi masyarakat pedesaan karena memiliki daya
adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pemeliharaannya relatif lebih
mudah. ( Riyanto. et al.,
2001 )
Sejarah ayam kampung dimulai
dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah ( Gallus
gallus ). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada
saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan
sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan
ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung
tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan
selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang
menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air. Sampai sekarang sistem upeti
dalam arti perpindahan barang ( ayam kampung ) dari desa ke kota masih tetap
ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis. ( Anonim. et al., 2003. )
2.2 Penetasan Telur
1. Pemilihan
telur
Seleksi
telur yang akan ditetaskan sangatlah penting karena hal inilah yang menentukan berhasil
tidaknya penetasan ini. Hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan
ini. Hal ini yang perlu di perhatikan dalam penyelesaian antara lain :
a)
Meiliki berat yang normal di bandingkan
dengan jenisnya ( untuk ayam kampung beratnya 40 - 43 gr/butir ).
b)
memiliki bentuk normal di bandingkan
dengan jenisnya ( untuk ayam kampong ) ukuran maksimal 3 : 4.
c)
Keadaan kulit telurnya bersih dari
kotoran.
d)
Rongga udaranya terlihat dengan jelas di
bagian tumpul dan tidak berpindah - pindah.
e)
Umur telur lebih dari 5 hari dan cara
penyampaiannya berat.
f)
Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8
tidak lebih.
g)
Umur induk jantan dan betina tidak boleh
berekurang dari 12 hari.
h)
Tidak terdapat kecacatan seperti retak, permukaan
yang terlalu kasar, camkang yang lembek.penebalan kulit di suatu bagian kuning
telur dobel dll.
i)
Tidak berbau busuk atau sudah lama di
simpan ( ini harus segera di pisahkan dengan telur yang bagus ).
2.
Faktor yang mempengaruhi kualitas
telur
1. Asupan
nutrisi pada indik memenuhi syarat.
2. Kesehatan
induknya bagus ( tidak sedang terserang penyakit ).
3. Ratio
induk jantan dan betinanya 1 : 8 tidak lebih.
4. Umur
induk jantan dan betina tidak boleh kurang dari 12 bulan.
5. Pola
perkawinannya terkontrol atau terhindar dari kawin sedarah ( inbreading terjadi
rentang 6 generasi ).
3.
Kapasitas mesin tetas
Tabel
kapasitas mesin :
|
Tipe
|
Kapasitas
(
ayam kampung )
|
P
X L X T
(
cm )
|
Daya
listrik
|
Jenis
lampu
|
|
C 30
|
30 – 36 Butur
|
30 x 30 x 32
|
10 watt
|
Biasa
|
|
C 50
|
42 – 50 Butir
|
40 x 30 x 32
|
10 watt
|
Hiper
|
|
C 75
|
66 – 75 butir
|
50 x 30 x 32
|
20 watt
|
Biasa
|
|
C 100
|
82 – 100 butir
|
60 x 30 x 32
|
20 – 30 watt
|
Biasa
|
|
C 200
|
164 – 200 butir
|
90 x 40 x 32
|
40 watt
|
Biasa
|
|
C 500
|
500 – 600 butir
|
40 x 30 x 32
|
± 200 watt
|
Elemen
|
|
C 1.000
|
1000 – 1200 butir
|
60 x 60 x 125
|
± 250 watt
|
Elemen
|
4.
Keunggulan mesin penetas telur :
1.
Menggunakan sistem rak putar, pemutaran
semua telur dapat di lakukan dengan sekali mengoperasikan hendel dari luar (
tampa membalik satu persatu ).
2.
Rak telur terdiri dari penggabungan bahan alumunium dan rangka
plastik, dengan ram profil ‘ U , sangat baik dalam meratakan panas pada telur,
tahan karat, higenis, ringan dan akurat.
3.
Thermostat menggunakan rangka plastik,
penyetelan di lakukan dari lubang fentilasi dan fluktuasi suhu sekitar 100 - 1050C
sehingga aman digunakan, lebih akurat
dan praktis.
4.
Pemanas darurat dengan plat pemanas,
cukup memakai lampu minyak/ lilin.
5.
Dapat di gunakan berbagai jenis dan
ukuran telur unggas, dari bebek, ayam, puyuh, dara, perkutut, wallet, dll, (
untuk ukuran telur burung, rak dapat di pesan khusus ).
6.
Desain lebih artistik, indah, variatif
dan ringan.
5.
Tambahan
Standar untuk suhu dalam incubator “ penetasan ’’
tipe forced air adalah 100 untuk jenis forced – air
incubators dan 102. Untuk type still - air incubatos, suhu pada incubator
penetas ( hatching ) di 1 lebih rendah di bandingkan dengan incubator “
pengeraman ” selama 3 hari sebelum penetasan.
Sedangkan untuk type still air, posisi termometer adalah
sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar
telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan
dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari
hilang panas atau kelembaban udaranya.
BAB III
MATERI DAN
METODE
3.1
Materi
1. Alat dan bahan
a.
Alat yang digunakan
Ø Mesin
tetas
Ø Kain
lap
Ø Bak
air
Ø Termometer
Ø lilin
Ø Teropong
telur
Ø Korek
api
b. Bahan
yang digunakan
Ø Alcohol
96 %
Ø Air
hangat
Ø Desinfektan
( INCUNOL )
Ø Air
Ø Telur
Ø Kapur
ajaib
Ø Deterjen
Ø Sunlinght
2.
Waktu dan Tempat
a.
Waktu pelaksanaan praktikum akan dilakukan
pada bulan Mei - Juni 2014.
b.
Tempat pelaksanaannya dilakukan di
laboratorium biokimia fakultas pertanian unaversitas samawa ( UNSA ) sumbawa
besar.
3.2 Metode
1.
Persiapan
· Persiapan
mesin
v Langkah
persiapan
a) Hubungkan
mesin dengan daya listrik, perhatikan apakah lampu telah menyala dengan normal,
jika tidak ganti segera.
b) Bak
air diisi 1/4 bagian
dengan air bersih.
c) Mesin
disetel dengan suhunya atau kelembaban, dengan mengatur termostatnya.
Caranya buka lubang
fentalasi, posisikan baut sehingga berada tepat ditenga hnya lubangnya, jika
suhu kurang putar baut kekiri dan jika terlalu panas putar kekanan perhatikan
jarak suhu ketika mati dan hidup fluktasinya maksimal 1020 F ( amati
pula perbedaan pada siang dan malam ). suhu sekitar 1050 F untuk 30
menit dapat mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada telur
900 F untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembagan enbrio
didalam telur. kembaban 55 – 66% jika kurang dari itu ditambahkan spons basah
dibak air,atau ditepi dalam mesin untuk sprey dengan air hangat ( kelembaban
yang dibutuhkan berbeda setiap spesies ).
d) Menstabilkan
kondisinya kurang lebih 3 jam ( usahakan ditempatkan diruangan yang tertutup
namun cukup fentilasi ).
e) Telur
ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul diatas.
f) Suhu
dan kelembaban dicontrol kembali hingga stabil.
2. Pelaksanaan
· Persiapan
telur
a. Seleksi
kualitas telur
Semua ciri – ciri telur
berkualitas harus di penuhi dan faktor yang mempengaruhi kualitas telur yang di
perbaiki dan di penuhi.
b. Perlakuan
pada telur penetasan
1. Telur
yang akan di tetaskan di seleksi sesuai pedoman.
2. Telur
yang akan di tetaskan di bersihkan dengan desinfektan seperti air hangat,
alcohol 70% , formalib 40%, incunol 75% dan kalium permangamate ( KMNO4
) atau jenis desinfektan lainnya secara berlahan dengan menggunakan spons atau
kain katun sebagai pembersihnya. ( Awas ! jangan menggunakan kertas gosok /
amplas untuk membersikannya ).
3. Telur
yang akan di tetaskan di simpan dengan kisaran suhu 1010 – 1050
C dan kelembaban 55 – 66 %. Cara penyimpanan telur yang benar adalah
rongga udara berada di atas ( Awas ! penyimpanan jangan sampai 5 hari setelah
keluarnya telur dari induknya ).
c. Priode
penetasan ayam
|
Kasus
|
Ayam
|
|
Waktu netas ( hari )
Stop pemutaran ( hari )
Tempelatur ( 0F )
Kelembaban ( % )
|
21
18
100 – 103
55 – 60
|
d. Proses
penetasan
1. Yakinkan
posisi telur pada rak benar ( jika ruang pada rak masih ada isi dengan spons
atau kain, sehingga tidak berantakan ).
2. Posisikan
thermometer ataupun hygrometer pada rak, di antara telur sehingga dapat dengan
mudah di pantau melalui kaca.
3. Durasi
pembalikan rak. ( untuk telur ).
|
No
|
Hari ke
|
Perlakuan
|
|
1.
|
1 – 3
|
Posisi rak datar ( jangan diputar ) .
|
|
1.
2.
|
4 – 18
|
Telur dibalik 3 – 8 kali sehari dengan durasi seimbang.
|
|
2.
3.
|
19 – 21
|
Posisi rak di datarkan kembali dengan ,menunggu
penetasan.
|
4. Durasi
candling untuk di lakukan sebanyak 2 kali yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 14.
Untuk telur yang tidak menampakan ciri – ciri telur fertil sehingga di culling
atau di ambil. Karena jika sampai mengalami pembusukan akan mempengaruhi telur
yang lain. ( Proses ini dapat di lakukan dengan menggunakan teropong telur ).
5. Durasi
pembukaan lubang fentilasi ada 4 periode pada hari 1 – 3 tidak boleh di buka,
hari ke 4 di buka ¼ bagian. hari
ke 5 di buka ½ bagian, hari ke 6 di buka ¼ bagian dan hari ke 7 hingga menetas
di buka penuh.
6. Perlakuan
saat keadan darurat.
a. Saat
listrik putus, letakkan lilin atau lampu minyak plat di bawah mesin, ambil bak
air untuk sementara dan letakkan 2 tuas kayu kecil panjang di antara plat lalu
masukkan kembali bak air sehingga tidak kontak langsung dengan plat di
bawahnya. ( lakukan proses ini dengan cepat atau usahakan suhunya tetap stabil
).
b. Saat
suhu tidak kunjung naik, ganti lampu dengan watt yang lebih besar, untuk 5 watt
kecil ganti dengan 5 watt hiper, 5 watt hiper ganti dengan 10 watt dan
seterusnya.
c. Saat
lampu pada mesin mati, amati apakah lampunya putus jika benar segera ganti .
amati apakah capsul atau ada benda lain yang menekan mikroswich jika benar atur
kembali. Jika bukan masalah itu berarti ada kabel yang putus ( Untuk sementara
saat ini anda dapat menggunakan pemanas darurat atau gunakan mesin cadangan ).
d. Saat
air pada bak tumpah dalam mesin, cabut aliran listrik untuk sementara, serap
air pada mesin dengan spons. Pastikan bagian elektroniknya kering, hidupkan
kembali mesin. ( Jika air yang tumpah tidak segera di tangani akan merusak
bagian mesin).
e. Saat
kapsul tidak bisa mengembang, amati apakah ada baut menyengat dalam mesin keluar dari kapsul jika benar kapsul telah
bocor. segera ganti dengan yang baru.
f. Saat
anak ayam yang baru menetas di serang semut atau serangga lain, usahakan
serangga di dalam keluar dan letakkan penampung air di kaki mesin serta hindari
menempel dengan dinding. Bisa juga menggunakan insektisida di luar mesin ( Awas
! ! jangan sampai mengenai telur maupun anak ayam ).
g. Perlakuan
pada DOC / DOD pasca penetasan
Perlakuan pada DOC / DOD dll. Pasca penetasan antara
lain pada umur sehari beri vaksinasi ND
dan gurnboro untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Letakkan pada kotak yang aman
dan telah di beri lampu dengan suhu di dalam, Beri pakan BR – 1 ( pakan khusus
starter ). Air minum dan beri batu atau
sebagainya pada tempat airnya agar anak ayam tidak masuk dalam air atau mati. Jemur
pada saat pagi hari dan pastikan kondisinya aman dari predator.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar