Selasa, 27 Mei 2014

makalah penetasan telur gunank satange

LAPORAN PRAKTIKUM
PENETASAN TELUR
Laporan Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Dasar Ternak Unggas “

 








Disusun Oleh :
KELOMPOK II ( DUA )
Ilmu Peternakan
( A )


PROGRAM STUDI ILMU PERTERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SAMAWA ( UNSA )
SUMBAWA BESAR
TAHUN

2014

LEMBARAN PENGESAHAN
Lembaran kegiatan mahasiswa ini merupakan gambaran tentang kegiatan Selama pelaksanaan praktek penetasan telur
Telah disetujui / disahkan
Pada tanggal,              Mei 2014

PRAKTIKAN                                                            CO. AS

Bahtiar                                                                        Ayu Azhari
Nim : 13.01.04.0.010-02                                             Nim : 12.04.08.0


Bayu Saputra                                                             Jonni Saputra
Nim : 13.01.04.0.012-02                                             Nim : 11.04.08.0334


Danang Abdan Syakura                                            Kiki Lindani
Nim : 13.01.04.0.015-02                                             Nim : 11.04.08.0335


Dian Satriana                                                             Yayan Kurniawan
Nim : 13.01.04.0.019-02                                             Nim : 12.04.08.0452


Eka Susanti
Nim : 13.01.04.0.021-02


Gunawan  
Nim : 13.01.04.0.022-02


Hamdan Ade Saputra
Nim : 13.01.04.0.023-02


Heriandani
Nim : 13.01.04.0.024-02


Hermansyah
Nim : 13.01.04.0.025-02


Heru Arwin Ardhani
Nim : 13.01.04.0.026-02


Letisia
Nim : 13.01.04.0.037-02


Lina Fitri
Nim : 13.01.04.0.039-02

Mengetahui :
Dosen pengampu


( Ir. Ahmad yani ,M.Si )
Nidn : 0821016601


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esha yang telah memberikan berkah, sehingga kami dapat selesaikan praktikum yang berjudul “ PENETASAN TELUR ” yang mana laporan praktikum ini merupakan tugas mata kulya Dasar Ternak Unggas.
Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam menyelesaikan penyusunan laporan praktikum  ini, sehingga praktikkum ini dapat kami  terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam hal menyusun laporan praktikum ini, kami penyusun menyadari bahwa laporan praktikum ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna menyempurnakan laporan praktikum selanjutnya, semoga praktikum ini bermanfaat bagi kita semua.


                                              Sumbawa Besar ,       Mei 2014

Kelompok II



DAFTAR ISI
                                                                                                                 Halaman
HALAMAN JUDUL
LEMBARAN PENGESAHAN ...................................................................  i
KATA PENGANTAR.................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................  iii
DAFTAR TABEL......................................................................................... iv
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................  v
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................
1.l Latar Belakang........................................................................................
1.2 Maksud Dan Tujuan Praktikum............................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................
2.1 Ayam Kampung......................................................................................
2.2 Penetasan Telur......................................................................................
BAB III MATERI DAN METODE............................................................
3.1 Materi.....................................................................................................
1. Alat Dan Bahan.................................................................................
2. Waktu Dan Tempat...........................................................................
3.2 Metode....................................................................................................
1. Persiapan............................................................................................
2. Pelaksanaan.......................................................................................
BAB IV HASIL PENETASAN TELUR .....................................................  
BAB V PENUTUP........................................................................................
LAMPIRAN – LAMPIRAN........................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................  


DAFTAR TABEL
                                                                                                                 Halaman
HALAMAN JUDUL
TABEL 1 : kapasitas Mesin  ......................................................................  
TABEL 2 : Periode Penetasan Telur ..........................................................  
TABEL 3 : Proses Penetasa .......................................................................  
TABEL 4 : Hasil Pemeriksaan Telur Dan Penetasan Telur .....................
DAFTAR LAMPIRAN
                                                                                                                 Halaman
HALAMAN JUDUL
TABEL 1 : Jadwal Piket Penetasan Telur .................................................  
TABEL 2 : Catatan Temperatur Dan Pemutaran Telur ............................  
TABEL 3 : Dokumentasi Hasil Penetasan Telur .......................................  
 BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam rangka peningkatan kemampuan mahasiswa dalam mata kuliah dasar ternak unggas, maka dilakukan praktikum dengan materi penetasan telur ayam kampung menggunakan mesin penetas sederhana. Mesin penetas system rak putar generasi terbaru alat penetasan telur kapasitas kecil, yang bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi penetasan dengan teknis yang jauh lebih praktis, mudah dan murah. Mesin penetas mitra jaya dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efisiensi penetasan tinggi, kemudahan pengoperasian, model artistic dan ringan. namun semua keunggulan itu juga masih ditambah dengan harganya yang relative  terjangkau, hal ini dikarenakan system produksi yang mengandalkan manajemen dan analisa yang terencana dan matang sehingga menghasilkan proses produksi yang sangat efisien dan efektif ( Anonim. et al., 2013 )
Dengan keprofesionalan kita antara kita bersama dalam melaksanakan heatcheting, semoga akan mendapat hasil yang terbaik.
Kebutuhan masyarakat terhadap daging unggas terutama ayam sangat tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Sementara ketersediaan populasi ayam ( chicken population stock ) sangat berkurang. Berkurangnya populasi ayam tersebut disebabkan karena a). Penyakit, dimana baru - baru ini unggas diserang oleh penyakit yang sangat ditakuti oleh manusia yaitu flu burung. Flu burung ini ditakuti karena bisa menular ke manusia dan bersifat mematikan. Sementara vaksinnya belum bisa ditemukan. b). Kurangnya minat masyarakat dalam pembudidayaan unggas atau ayam, karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, menyebabkan manusia menjadi gengsi dan manja untuk melakukan suatu usaha terutama pada pembudidayaan unggas terutama ayam. ( Anonim. et al., 2003. )
Sehingga melihat permasalahan tersebut maka ditemukanlah suatu cara untuk meningkatkan populasi ayam yaitu dengan cara menetaskan telur. Penetasan telur ini merupakan suatu uapay untuk menyelsaikan permasalahan kebutuhan unggas dimasyarakat baik kebutuhan untuk dikonsumsi maupun kebutuhan untuk dibudidayakan. ( Antonius. et al., 2001 )
Penetasan telur ini menggunakan mesin tetas, dimana fungsinya menggantikan induk asli dari unggas tersebut. Sementara system kerja mesin tetas sama seperti system kerja induk, suhu dan kelembaban bisa diatur oleh orang yang menetaskan. Namun kelebihan dari mesin tetas ini adalah mampu menampung telur yang akan ditetaskan dalam jumlah yang banyak, dari 50 butir sampai ribuan butir lebih. ( Anonim. et al., 2013 )
Akan tetapi menetaskan telur menggunakan mesin tetas masih belum terlalu banyak diterapkan dimasyarakat, Karena mereka belum memahami teknis penggunaan dari mesin tetas tersebut. Sehingga perlu pengkajian tentang bagaimana cara menggunakan mesin tetas yang baik serta bagaimana cara menetaskan telur. ( Antonius. et al., 2001 )
Mahasiswa terutama mahasiswa fakultas peternakan harus melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang ada, perlu percobaan penetasan telur. Oleh karena itu mahasiswa melakukan praktikum penetasan telur pada mata kuliah teknologi penetasan telur. ( Anonim. et al., 2013. )

1.2     Maksud Dan Tujuan Praktikum
1.      Maksud diadakan praktikum penetasan telur ayam kampung menggunakan mesin penetas sederhana adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang cara dan tehnik penetasan telur.
2.      Tujian diadakan praktikum adalah untuk memberikan ketrampilan kepada mahasiswa dalam pengelolahan penetasan telur.   


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Ayam Kampung
Ayam kampung adalah sebutan di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan untuk kepentingan komersial tersebut. Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktivitas peternakan ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu. Ayam kampung merupakan salah satu jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. ( Anonim. et al., 2003. )
Istilah "Ayam kampung" semula adalah kebalikan dari istilah "ayam ras", dan sebutan ini mengacu pada ayam yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar perumahan. Namun demikian, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian, dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras unggul ayam kampung. Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam buras ( singkatan dari "ayam bukan ras" ) bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya ( tidak sekadar diumbar dan dibiarkan mencari makan sendiri ). Peternakan ayam buras mempunyai peranan yang cukup besar dalam mendukung ekonomi masyarakat pedesaan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pemeliharaannya relatif lebih mudah. ( Riyanto. et al., 2001 )
Sejarah ayam kampung dimulai dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah ( Gallus gallus ). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air. Sampai sekarang sistem upeti dalam arti perpindahan barang ( ayam kampung ) dari desa ke kota masih tetap ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis. ( Anonim. et al., 2003. )

2.2    Penetasan Telur
1.    Pemilihan telur
Seleksi telur yang akan ditetaskan sangatlah penting karena hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan ini. Hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan ini. Hal ini yang perlu di perhatikan dalam penyelesaian antara lain :
a)         Meiliki berat yang normal di bandingkan dengan jenisnya ( untuk ayam kampung beratnya 40 - 43 gr/butir ).
b)        memiliki bentuk normal di bandingkan dengan jenisnya ( untuk ayam kampong ) ukuran maksimal 3 : 4.
c)         Keadaan kulit telurnya bersih dari kotoran.
d)        Rongga udaranya terlihat dengan jelas di bagian tumpul dan tidak berpindah - pindah.
e)         Umur telur lebih dari 5 hari dan cara penyampaiannya berat.
f)          Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8 tidak lebih.
g)         Umur induk jantan dan betina tidak boleh berekurang dari 12 hari.
h)         Tidak terdapat kecacatan seperti retak, permukaan yang terlalu kasar, camkang yang lembek. Penebalan kulit di suatu bagian kuning telur dobel dll.
i)           Tidak berbau busuk atau sudah lama di simpan ( ini harus segera di pisahkan dengan telur yang bagus ).


2.    Faktor yang mempengaruhi kualitas telur
1.    Asupan nutrisi pada indik memenuhi syarat.
2.    Kesehatan induknya bagus ( tidak sedang terserang penyakit ).
3.    Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8 tidak lebih.
4.    Umur induk jantan dan betina tidak boleh kurang dari 12 bulan.
5.    Pola perkawinannya terkontrol atau terhindar dari kawin sedarah ( inbreading terjadi rentang 6 generasi ).

3.    Kapasitas mesin tetas
Tabel kapasitas mesin :
Tipe
Kapasitas
( ayam kampung )
P X L X T
( cm )
Daya listrik
Jenis lampu
C 30
30 – 36 Butir
30 x 30 x 32
10 watt
Biasa
C 50
42 – 50 Butir
40 x 30 x 32
10 watt
Hiper
C 75
66 – 75 Butir
50 x 30 x 32
20 watt
Biasa
C 100
82 – 100 Butir
60 x 30 x 32
20 – 30 watt
Biasa
C 200
164 – 200 Butir
90 x 40 x 32
40 watt
Biasa
C 500
500 – 600 Butir
40 x 30 x 32
± 200 watt
Elemen
C 1.000
1000 – 1200 Butir
60 x 60 x 125
± 250 watt
Elemen

4.    Keunggulan mesin penetas telur :
1.      Menggunakan sistem rak putar, pemutaran semua telur dapat di lakukan dengan sekali mengoperasikan hendel dari luar ( tampa membalik satu persatu ).
2.      Rak telur terdiri dari  penggabungan bahan alumunium dan rangka plastik, dengan ram profil ‘ U , sangat baik dalam meratakan panas pada telur, tahan karat, higenis, ringan dan akurat.
3.      Thermostat menggunakan rangka plastik, penyetelan di lakukan dari lubang fentilasi dan fluktuasi suhu sekitar 100 - 1050C sehingga  aman digunakan, lebih akurat dan praktis.
4.      Pemanas darurat dengan plat pemanas, cukup memakai lampu minyak/ lilin.
5.      Dapat di gunakan berbagai jenis dan ukuran telur unggas, dari bebek, ayam, puyuh, dara, perkutut, wallet, dll, ( untuk ukuran telur burung, rak dapat di pesan khusus ).
6.      Desain lebih artistik, indah, variatif dan ringan.

5.    Tambahan
Standar untuk suhu dalam incubator “ penetasan ’’ tipe forced air adalah 100 untuk jenis forced  –  air incubators dan 102. Untuk type still - air incubatos, suhu pada incubator penetas ( hatching ) di 1 lebih rendah di bandingkan dengan incubator “ pengeraman ” selama 3 hari sebelum penetasan.
Sedangkan untuk type still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur atau  diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.


BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Materi
1.  Alat dan bahan
a. Alat yang digunakan
Ø Mesin tetas
Ø Kain lap
Ø Bak air
Ø Termometer
Ø Lilin
Ø Teropong telur
Ø Korek api
Ø Gunting
Ø Obeng
Ø Lak ban

b.    Bahan yang digunakan
Ø Alcohol 96 %
Ø Air hangat
Ø Desinfektan ( INCUNOL )
Ø Air
Ø Telur
Ø Kapur ajaib
Ø Deterjen
Ø Sunlight



2.    Waktu dan Tempat
a.    Waktu pelaksanaan praktikum akan dilakukan pada bulan April - Mei 2014.
b.    Tempat pelaksanaannya dilakukan di laboratorium biokimia fakultas pertanian unaversitas samawa ( UNSA ) sumbawa besar.

3.2 Metode
1.    Persiapan
·      Persiapan mesin
v Langkah persiapan
a)    Hubungkan mesin dengan daya listrik, perhatikan apakah lampu telah menyala dengan normal, jika tidak ganti segera.
b)   Bak air diisi 1/4  bagian dengan air bersih.
c)    Mesin disetel dengan suhunya atau kelembabannya, dengan mengatur termostatnya.
Caranya buka lubang fentalasi, posisikan baut sehingga berada tepat ditenga lubangnya, jika suhu kurang putar baut kekiri dan jika terlalu panas putar kekanan perhatikan jarak suhu ketika mati dan hidup fluktasinya maksimal 1020 F ( amati pula perbedaan pada siang dan malam ). Suhu sekitar 1060 F untuk 30 menit dapat mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada telur dibawah 900F untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembagan embrio didalam telur. Kelembaban 55 – 66% jika kurang dari itu ditambahkan spons basah dibak air, atau ditepi dalam mesin untuk sprey dengan air hangat ( kelembaban yang dibutuhkan berbeda setiap spesies ).
d)   Menstabilkan kondisinya kurang lebih 3 jam ( usahakan ditempatkan diruangan yang tertutup namun cukup fentilasi ).
e)    Telur ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul diatas.
f)     Suhu dan kelembaban dicontrol kembali hingga stabil.
2.    Pelaksanaan
·      Persiapan telur
a.    Seleksi kualitas telur
Semua ciri – ciri telur berkualitas harus di penuhi dan faktor yang mempengaruhi kualitas telur yang di perbaiki dan di penuhi.
b.    Perlakuan pada telur penetasan
1.    Telur yang akan di tetaskan di seleksi sesuai pedoman.
2.    Telur yang akan di tetaskan di bersihkan dengan desinfektan seperti air hangat, alcohol 70% , formalib 40%, incunol 75% dan kalium permanganate ( KMNO4 ) atau jenis desinfektan lainnya secara berlahan dengan menggunakan spons atau kain katun sebagai pembersihnya. ( Awas ! jangan menggunakan kertas gosok / amplas untuk membersikannya ).
3.    Telur yang akan di tetaskan di simpan dengan kisaran suhu 1010 C – 1050 C dan kelembaban 55 – 60 %. Cara penyimpanan telur yang benar adalah rongga udara berada di atas ( Awas ! penyimpanan jangan sampai 5 hari setelah keluarnya telur dari induknya ).


c.    Priode penetasan ayam
Kasus
Ayam
Waktu netas ( hari )
Stop pemutaran ( hari )
Tempelatur ( 0F )
Kelembaban ( % )
21
18
100 – 103
55 –  60

d.    Proses penetasan
1.    Yakinkan posisi telur pada rak benar ( jika ruang pada rak masih ada isi dengan spons atau kain, sehingga tidak berantakan ).
2.    Posisikan thermometer ataupun hygrometer pada rak, di antara telur sehingga dapat dengan mudah di pantau melalui kaca.
3.    Durasi pembalikan rak. ( untuk telur ).

No
Hari ke
Perlakuan
1.
1 – 3
Posisi rak datar ( jangan diputar ) .
1.         2.
4 – 18
Telur dibalik 3 – 8 kali  sehari dengan durasi seimbang.
2.            3.
19 – 21
Posisi rak di datarkan kembali dengan ,menunggu penetasan.

4.    Durasi candling untuk di lakukan sebanyak 2 kali yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 14. Untuk telur yang tidak menampakan ciri – ciri telur fertil sehingga di culling atau di ambil. Karena jika sampai mengalami pembusukan akan mempengaruhi telur yang lain. ( Proses ini dapat di lakukan dengan menggunakan teropong telur ).
5.    Durasi pembukaan lubang fentilasi ada 4 periode pada hari 1 – 3 tidak boleh di buka, hari ke 4 di buka ¼  bagian. Hari ke 5 di buka ½ bagian, hari ke 6 di buka ¼ bagian dan hari ke 7 hingga menetas di buka penuh.
6.    Perlakuan saat keadaan darurat.
a.    Saat listrik putus, letakkan lilin atau lampu minyak plat di bawah mesin, ambil bak air untuk sementara dan letakkan 2 tuas kayu kecil panjang di antara plat lalu masukkan kembali bak air sehingga tidak kontak langsung dengan plat di bawahnya. ( lakukan proses ini dengan cepat atau usahakan suhunya tetap stabil ).
b.   Saat suhu tidak kunjung naik, ganti lampu dengan watt yang lebih besar, untuk 5 watt kecil ganti dengan 5 watt hiper, 5 watt hiper ganti dengan 10 watt dan seterusnya.
c.    Saat lampu pada mesin mati, amati apakah lampunya putus jika benar segera ganti. Amati apakah capsul atau ada benda lain yang menekan mikroswich jika benar atur kembali. Jika bukan masalah itu berarti ada kabel yang putus ( Untuk sementara saat ini anda dapat menggunakan pemanas darurat atau gunakan mesin cadangan ).
d.   Saat air pada bak tumpah dalam mesin, cabut aliran listrik untuk sementara, serap air pada mesin dengan spons. Pastikan bagian elektroniknya kering, hidupkan kembali mesin. ( Jika air yang tumpah tidak segera di tangani akan merusak bagian mesin).
e.    Saat kapsul tidak bisa mengembang, amati apakah ada baut menyengat dalam mesin  keluar dari kapsul jika benar kapsul telah bocor. segera ganti dengan yang baru.
f.     Saat anak ayam yang baru menetas di serang semut atau serangga lain, usahakan serangga di dalam keluar dan letakkan penampung air di kaki mesin serta hindari menempel dengan dinding. Bisa juga menggunakan insektisida di luar mesin ( Awas ! ! jangan sampai mengenai telur maupun anak ayam ).
g.    Perlakuan pada DOC / DOD pasca penetasan
Perlakuan pada DOC / DOD dll. Pasca penetasan antara lain pada umur sehari beri vaksinasi  ND dan gurnboro untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Letakkan pada kotak yang aman dan telah di beri lampu dengan suhu di dalam, Beri pakan BR – 1 ( pakan khusus starter ). Air minum dan beri  batu atau sebagainya pada tempat airnya agar anak ayam tidak masuk dalam air atau mati. Jemur pada saat pagi hari dan pastikan kondisinya aman dari predator.




BAB IV
HASIL PEMERIKSAAN TELUR DAN PENETASAN TELUR

Hari/tgl
Jumlah telur
Telur fertil
Telur tidak fertil

Jumlah telur menetas


Senin
05-05-2014
   Hari  ke 7

30
28
2
-

Senin
12-05-2014
Hari  ke 14

28
26
2
-

Rabu
23-05-2014
Hari ke 23

-
-
-
2

Kamis
24-05-2014
Hari ke 24

-
-
-
6

Jum’at
25-05-2014
Hari ke 25

-
-
20
-

Ø Peneropangan Pertama ( I )
Peneropangan pertama dilakukan pada hari senin praktik ke 7, jam 20.00 – 22.00 wita, dari data peneropangan yang pertama jumlah telur 30 butir, sedangkan telur fertil dari hasil peneropongan berjumlah 28 butir telur dan yang tidak fertil berjumlah 2 butir. Telur yang  tidak fertil ini disebabkan telur tidak terdapat pembuluh darah atau akar didalam telur, telur tidak fertil atau tidak dibuahi ( perbaiki manajemen pemeliharaan bibit ) dan telur dibuahi, namun embrio telah mati ( periksa posisi telur, sisi tumpul harus diatas ). Berpengaruh juga pada saat pembawaan telur sebelum dimasukkan dalam mesin tetas dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus              :            
Fertilitas          = Telur fertil     x 100 % ,
                                  Jumlah telur                  
                       
Dik :  Jumlah telur 30 butir
Telur fertil 28 butir
Telur tidak fertil 2 butir
Dit :   Berapa persentase daya tetas telur tersebut ?

Penyelesaian :
= Telur fertil x 100 %                                        =  Telur tidak fertil x 100 %
     Jumlah telur                                                      jumlah telur

28 x 100 %                                                  =  x 100 %
    30                                                                    30

=  0 , 93 x 100 %                                             =  0,66 x 100 %
=  93 %                                                            =  7 %

Ø Jadi daya tetas seluruhnya adalah 100 %
Jadi jumlah persentase telur dari telur yang fertil pada peneropongan pertama adalah 93%. Hasil persentase ini diperoleh dari jumlah telur fertil dibagi jumlah hasil peneropongan pertama dan dikali daya tetas telur adalah 28 dibagi 30 dikali 100 % sama dengan 93%.
Dan jumlah persentase telur dari telur tidak fertil pada peneropongan pertama adalah 7%. Hasil persentase telur tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil dibagi jumlah telur haasil peneropongan pertama dan dikali  daya tetas telur adalah 2 dibagi 30 dikali 100 % sama dengan 7 %.
Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari peneropongan 1 ( pertama ) adalah saat mencari telur di kampung induk ayam yang kami datangi tidak dipelihara secara baik dan kualitas telur juga ada yang berbentuk bulat, lonjong dan lancip. Adapun kendala yang dihadapi pada saat telur dibawah menggunakan kantong plastik yang ditempatkan dalam kotak kecil, sehingga tidak menutup kemungkinan telur yang dibawah mengalami goncangan. Hal ini juga dapat mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur.

Ø Peneropangan Kedua ( II )
Peneropangan kedua dilakukan pada hari ke 14, jam 19.00 – 20.00 wita, dari data peneropangan  21 butir yang kami teropong terdapat telur fertil 15 butir telur dan yang tidak fertil 6 butir. Telur yang  tidak fertil ini disebabkan telur dibuahi namun banyak embrionya mati, temperatur salah ( biasanya terlalu panas ) periksa akurasi termometer, letakkan ditempatnya, pemutaran telur maksimal ( putar telur minimal 3 kali sehari dan maksimal 8 kali sehari ), kekurangan oksigen ( dataran tinggi O2 tipis ) jangan letakkan mesin tetas diruang tanpa cukup fentilasi, bibit telur kurang baik ( perbaiki manajemen pemeliharaan bibit dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus          :
Fertilitas       =  Telur fertil     x 100 % ,
                         Jumlah telur                

Dik  :    Jumlah telur 28 butir
Telur fertil 26 butir
Telur tidak fertil 2 butir
Dit  :     Berapa persentase daya tetas tersebut ?



Penyelesaian :
= Telur fertil x 100 %                                        = Telur tidak fertil x 100 %
               Jumlah telur                                                       Jumlah telur

= 26 x 100 %                                                   =  x 100 %
   28                                                                     28

= 0,93 x 100 %                                                = 0,07 x 100 %
= 93 %                                                             = 7 %

Ø Jadi daya tetas seluruhnya adalah 100 %.
Jadi jumlah persentase telur dari telur yang fertil pada peneropongan kedua adalah 93 %. Hasil persentase ini diperoleh dari jumlah telur fertil dibagi jumlah hasil peneropongan kedua dan dikali daya tetas telur adalah 26 dibagi 28 dikali 100 % sama dengan 93 %.
Dan jumlah persentase telur dari telur tidak fertil pada peneropongan kedua adalah 7 %. Hasil persentase telur tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil dibagi jumlah telur hasil peneropongan kedua dan dikali  daya tetas telur adalah 2 dibagi 28 dikali 100 % sama dengan 7 %.
Jadi kesimpulan yang dapat kami ambil pada saat peneropongan ke 2 adalah adanya kendala listrik yang sering mati kerena kurangnya daya di kampus dan yang menjadi pengaruhnya juga suhu yang sering naik turun sehingga telur yang ada didalam mesin tetas mengalami perubahan suhu atau kelembaban, pada saat pembalikan telur ada serangga yang masuk ( predator ) saat dikeluarkan rak telur dan lama penutupan pintu mesin tetas saat itulah serangga masuk sehingga ada telur yang busuk karena serangga itu mati dalam mesin tetas (incubator) tersebut. Apabila telur yang busuk tersebut lama dikeluarkan dapat mempengaruhi telur yang lain, dalam proses perkembangan embrio.

Ø Hasil Penetasan Telur
Penetasan telur pada hari ke 23 - 24 dari hasil praktek kami memperoleh telur netas 10 butir telur dan yang mati di dalam cangkang telur 5 butir telur. Telur yang tidak menetas disebababkan telur berisi embrio, tetapi tidak menetas, Kelembaban kurang (Periksa air, tambah spons di bak dan atau spray telur dengan air ), bibit kurang baik ( perbaiki manajemen pemeliharaan bibit ). Telur menetas terlalu lambat atau cepat , lebih dari atau kurang dari normalnya, temperatur terlalu tinggi atau rendah ( periksa akuransi thermometer ). Anak ayam yang lama menetas, lumpuh atau cacat dan ada noda darah, bibit kurang baik atau lemah ( perbaiki manajemen pemeliharaan bibit ) dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus                   :
Fertilitas                = Telur fertil     x 100 % ,
                             Jumlah telur                     
Dik  :    Jumlah telur 28 butir
            Telur netas 8 butir
Telur tidak fertil 20 butir
Dit  :     Berapa persentase daya tetas tersebut ?           
Penyelsaian :
= Telur netas x 100 %                                      = Telur tidak fertil x 100 %
    Jumlah telur                                          Jumlah telur

= 8 x 100 %                                                     =  20 x 100 %
   28                                                                     28

= 0,29 x 100 %                                                =0,71  x 100 %
= 29 %                                                             = 71 %

Ø Jadi daya tetas seluruhnya adalah 100 %
Jadi jumlah persentase telur dari telur yang tidak meneetas pada penetasan telur adalah 29 %. Hasil persentase ini diperoleh dari jumlah telur yang menetas dibagi jumlah telur hasil penetasan dan dikali daya tetas telur adalah 8 dibagi 28 dikali 100 % sama dengan 29 %.
Dan jumlah persentase telur dari telur tidak fertil pada penetasan adalah 71 %. Hasil persentase telur tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil dibagi jumlah telur hasil penetasan dan dikali  daya tetas telur adalah 20 dibagi 71 dikali 100 % sama dengan 71 %.
Jadi kesimpilan yang dapat kami ambil saat telur menetas adalah kendalah listrik yang sering mati sehingga berpengaruh temperatur suhu atau temperatur yang menjadi naik turun, sehingga mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur. Hal ini mengakibatkan telur yang menetas kurang sempurna karena tidak bisa menembus cangkang secara sempurna, namun demikian beberapa telur ada juga yang menetas sempurna.
Ini dikarenakan pemilahan bibit yang kurang baik karena usaha pemeliharaan ayam kampung di sumbawa ataupun dipedesaan belum banyak mempertimbangkan aspek keuntungan, pemeliharaan ayam kampung belum diupayakan oleh peternak agar dapat berproduksi secara optimal. Sistem pemeliharaan ayam kampung masih diusahakan oleh sebagian orang yang berada di wilayah pedesaan dengan keterbatasan penguasaan sumberdaya ( lahan, pendapatan, inovasi dan teknologi ). Keadaan demikian menunjukkan bahwa pola usaha beternak ayam kampung belum merupakan usaha komersial. Yakni merupakan usaha sampingan yang ditandai dengan skala usaha relatif kecil dan tatalaksana pemeliharaan seadanya.

  BAB V
PENUTUP

a.        Kesimpulan
Dengan praktikum yang telah kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa banyaknya telur yang tidak menetas disebabkan karena kualitas telur yang tidak baik dan tempat telur di peroleh kurang baik ataupun cara pemeliharaannya kurang baik. Selain itu yang menyebabkan telur tidak menetas adalah karena pada saat pembawaan telur kurang baik karena tidak menggunakan sekam tapi dibawa dengan kantong plastik dan kemudian dipindahkan ke tre, sehingga telur mendapat goncangan.
Permasalahan yang lain pada saat penetasan adalah kendalah listrik yang sering mati sehingga berpengaruh temperatur suhu atau temperatur yang menjadi naik turun, sehingga mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur. Hal ini mengakibatkan telur yang menetas kurang sempurna karena tidak bisa menembus cangkang secara sempurna, namun demikian beberapa telur ada juga yang menetas sempurna.
Ini dikarenakan pemilahan bibit yang kurang baik karena usaha pemeliharaan ayam kampung disumbawa ataupun dipedesaan belum banyak mempertimbangkan aspek keuntungan, pemeliharaan ayam kampung belum diupayakan oleh peternak agar dapat berproduksi secara optimal. Sistem pemeliharaan ayam kampung masih diusahakan oleh sebagian orang yang berada di wilayah pedesaan dengan keterbatasan penguasaan sumberdaya ( lahan, pendapatan, inovasi dan teknologi ). Keadaan demikian menunjukkan bahwa pola usaha beternak ayam kampung belum merupakan usaha komersial. Yakni merupakan usaha sampingan yang ditandai dengan skala usaha relative  kecil dan tatalaksana pemeliharaan seadanya.




b.        Saran
Untuk praktikum penetasan telur yang selanjutnya agar penetasanya mendapat hasil yang baik dan sempurna, pada saat pemilihan telur harus memilih telur yang mempunyai kualitas yang baik dan pada saat membawa telur harus menggunakan sekam dan membawanya dengan hati – hati agar telur tidak mendapat goncangan.
Dan pada saat pemilihan telur pilihlah telur yang beratnya seragam dan bentuknya tidak terlalu lonjong, dan pilih telur yang cangkangnya yang tidak terlalu tebal karna apabila cangkangnya tebal akan sulit bagi DOC untuk memecahkan cangkangnya dan jangan memilih telur yang cangkangnya terlalu tipis karena kuman bisa masuk dengan mudah dan cepat retak.



LAMPIRAN - LAMPIRAN
TABEL 1. JADWAL PIKET PENETASAN TELUR

Hari/tgl
Nama mahasiswa
Catatan kejadian
Sabtu
26-04-2014

1.    Ketua
2.    Anggota
Ø  Melakukan pengecekkan mesin
Ø  Membersihkan mesin tetas dengan menggunakan alkohol 96% dan menggunakan desinfektan ( incunol ) anti septik untuk mesin tetas telur dan telur tetas.
Ø  Melakukan pengaturan suhu harus konstan 1000C - 1050C dan kelembaban 55 – 60 % selama 3 jam sebelum memasukkan telur. Jam 04 : 00 wita.
Selasa
29-04-2014
Hari ke 1
1.    Ketua
2.    Anggota

Ø  Membersihkan telur menggunakan larutan incunol sebagai anti seftik untuk membunuh bakteri pada cangkang telur.
Ø  Setelah membersihkan telur, kemudian menganginkan selama 1 jam sebelum memasukkan dalam mesin tetas, memasukkan telur  dalam mesin tetas pukul 16 : 00 – 16 : 45.
Ø  Telur ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul di atas.
Ø  Melakukan pengaturan suhu harus konstan 1000C - 1050C dan kelembaban 55 – 60 %.
Ø  Menaroh air dalam mesin tetas menggunakan bak air.
Ø  Posisi rak dasar ( jangan dibalik ).
Ø  Lubang fentilasi tidak bole dibuka.


Rabu 
30-05-2014
Hari ke 2


1.    Ketua
2.    Anggota
Ø  Pengecekan suhu hingga konstan sekitar 1000C - 1050C.
Ø  Mesin tasas tidak boleh dibika hingga hari ke 4.
Ø  Posisi rak dasar ( jangan dibalik )
Ø  Lubang fentilasi tidak bole dibuka.


Kamis  
1-05-2014
Hari ke 3


1.    Ketua
2.    Anggota
Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga hari ke 4.
Ø  Posisi rak dasar ( jangan dibalik )
Ø  Lubang fentilasi tidak bole dibuka.


Jum’at   
2-05-2014
Hari ke 4


1.   Eka susanti
2.   Bahtiar
3.   Gunawan
Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ¼ bagian.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.


Sabtu
03-05-2014
Hari ke 5



1.   Dian satriana
2.   Bayu saputra
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ½ bagian.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.


Minggu
04-05-2014
Hari ke 6

1.   Lina fitri
2.   Hamdan ade s.
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ¼ bagian.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.

Senin
05-05-2014
Hari ke 7
1.   Ketua
2.   Anggota
Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Mengecek suhu.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Melakukan peneropongan pertama pada hari ke 7 pada pukul 20.00 – 21.20 wita.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Selasa
06-05-2014
Hari ke 8
1.   Letisia
2.   Hermansyah
3.   Gunawan
Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Mengecek suhu.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Rabu
07-05-2014
Hari ke 9
1.   Eka susanti
2.   Dangan abdan s.
3.   Gunawan
Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Kamis  
08-05-2014
Hari ke 10

1.   Lina fitri
2.   Bahtiar
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Jum’at
09-05-2014
Hari ke 11

1.   Dian satriana
2.   Heru arwin
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Penambahan air.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Sabtu
10-05-2014
Hari ke 12

1.   Letisia
2.   Heriandani
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Minggu
11-05-2014
Hari ke 13

1.   Hermansyah
2.   Danang abdan s.
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Senin
12-05-2014
Hari ke 14

1.   Bayu saputra
2.   Danang abdan s.
3.   Gunawan



Ø  Penganginan telur 15 menit, pembalikkan telur dan pengecekkan suhu.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.
Ø  Melakukan peneropongan kedua pada hari ke 14 pada pukul 19.00-20.00 wita.


Selasa
13-05-2014
Hari ke 15

1.   Eka susanti
2.   Heriandani
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Penggantian air kerna ada binatang yang masuk dan mengotori bak air.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Rabu
14-05-2014
Hari ke 16

1.    Letisia
2.    Danang abdan s.
3.    Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Kamis
15-05-2014
Hari ke 17

1.   Dian satriana
2.   Hamdan ade s.
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.

Jum’at
16-05-2014
Hari ke 18

1.   Lina fitri
2.   Bayu saputra
3.   Gunawan



Ø  Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø  Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø  Pentilasi dibuka penuh.
Sabtu
17-05-2014
Hari ke 19
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.

Minggu
18-05-2014
Hari ke 20
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.

Senin
19-05-2014
Hari ke 21
1.    Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.

Selasa
20-05-2014
Hari ke 22
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.

Rabu
21-05-2014
Hari ke 23
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengecek suhu.
Ø  Telur menetas.

Kamis
22-05-2014
Hari ke 24
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø  Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.

Jum’at
23-05-2014
Hari ke 25
1.   Ketua
2.   Anggota

Ø  Mengecek suhu.
Ø  Telur menetas








TABEL. 2 CATATAN TEMPERATUR DAN PEMUTARAN TELUR

Hari/tgl
Temperatur
Kelembaban
Pemutaran Telur
Pagi
Siang
    Malam
Selasa
29-05-2014
Hari ke 1
102oF
55-60 %
-
-
-
Rabu
30-05-2014
Hari ke 2
102oF
55-60 %
-
-
-
Kamis
01-05-2014
Hari ke 3
102oF
55-60 %
-
-
-
Jum’at
02-05-2014
Hari ke 4
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00
Sabtu
03-05-2014
Hari ke 5
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Minggu
04-05-2014
Hari ke 6
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Senin
05-05-2014
   Hari ke 7
104oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Selasa
06-05-2014
Hari ke 8
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Rabu
07-05-2014
  Hari ke 9
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Kamis
08-05-2014
Hari ke 10
100oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Jum’at
09-05-2014
 Hari  ke 11
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Sabtu
10-05-2014
Hari ke 12
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Minggu
11-05-2014
Hari ke 13
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Senin
12-05-2014
Hari ke 14
104oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Selasa
13-05-2014
Hari ke 15
104oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Rabu
14-05-2014
Hari ke 16
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Kamis
15-05-2014
Hari ke 17
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Jum’at
16-05-2014
Hari ke 18
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Sabtu
17-05-2014
Hari ke 19
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Minggu
18-05-2014
Hari ke 20
102oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

Senin
20-05-2014
Hari ke 21
104oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00
   
    Selasa
21-05-2014
Hari ke 22
103oF
55-60 %
07-00

10-00
13-00

16-00
19-00

22-00

LAMPIRAN - LAMPIRAN
Gambar
Keterangan



Ø  Hasil penetasan telur



Ø  Telur yang gagal menetas






Ø  Telur menetas







Ø  Telur yang non fertil ( telur yang rusak atau embrionya mati didalam telur )





Ø  Proses pembersian telur menggunakan incunol.







Ø  Saat menaru telur ayam ke rak alumunium.




DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2010. penetasan telur dengan mesin tetas. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/mesin_tetas.htm diakses pada tanggal 20 Desember 2010).
Anonym, 2010. Tips menetaskan telur. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm di akses pada tanggal 20 Desember 2010.
Bell D.J. and Freeman B.M., 1971. Physiology and Biochemistry of the Domestic Fowl. Volume 3. Academic Press. London New York.
Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.
James Blakely and David H. Bade, 1985. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta: Kanisius.
Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta:
Andromedia Pustaka.
Sudaryani dan Samosir, 1997. Mengatasi Permasalahan Beternak Ayam.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar