LAPORAN
PRAKTIKUM
PENETASAN TELUR
Laporan Ini Diajukan Untuk
Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah “ Dasar Ternak Unggas “
![]() |
Disusun Oleh :
KELOMPOK II ( DUA )
Ilmu Peternakan
( A )
PROGRAM
STUDI ILMU PERTERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SAMAWA ( UNSA )
SUMBAWA
BESAR
TAHUN
2014
LEMBARAN
PENGESAHAN
Lembaran
kegiatan mahasiswa ini merupakan gambaran tentang kegiatan Selama pelaksanaan
praktek penetasan telur
Telah
disetujui / disahkan
Pada tanggal, Mei 2014
PRAKTIKAN CO. AS
Bahtiar Ayu Azhari
Nim : 13.01.04.0.010-02 Nim : 12.04.08.0
Bayu Saputra Jonni Saputra
Nim : 13.01.04.0.012-02 Nim
: 11.04.08.0334
Danang Abdan Syakura Kiki Lindani
Nim : 13.01.04.0.015-02 Nim : 11.04.08.0335
Dian Satriana Yayan Kurniawan
Nim : 13.01.04.0.019-02 Nim :
12.04.08.0452
Eka Susanti
Nim : 13.01.04.0.021-02
Gunawan
Nim : 13.01.04.0.022-02
Hamdan Ade Saputra
Nim : 13.01.04.0.023-02
Heriandani
Nim : 13.01.04.0.024-02
Hermansyah
Nim : 13.01.04.0.025-02
Heru Arwin Ardhani
Nim : 13.01.04.0.026-02
Letisia
Nim : 13.01.04.0.037-02
Lina Fitri
Nim : 13.01.04.0.039-02
Mengetahui :
Dosen pengampu
( Ir. Ahmad yani ,M.Si )
Nidn : 0821016601
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kehadiran Tuhan Yang
Maha Esha yang telah memberikan berkah, sehingga kami dapat selesaikan praktikum yang berjudul “ PENETASAN TELUR ” yang mana laporan
praktikum ini merupakan tugas mata kulya “Dasar
Ternak Unggas”.
Penyusun
mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung
dan membantu dalam menyelesaikan penyusunan laporan praktikum ini, sehingga praktikkum ini dapat kami terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam
hal menyusun laporan praktikum ini, kami penyusun menyadari
bahwa laporan praktikum ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak guna menyempurnakan laporan praktikum selanjutnya, semoga praktikum ini bermanfaat bagi kita
semua.
Sumbawa Besar , Mei 2014
Kelompok II
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
LEMBARAN PENGESAHAN ................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................
ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL.........................................................................................
iv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................
1.l Latar
Belakang........................................................................................
1.2 Maksud Dan Tujuan Praktikum............................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................
2.1 Ayam Kampung......................................................................................
2.2 Penetasan Telur......................................................................................
BAB III MATERI DAN METODE............................................................
3.1 Materi.....................................................................................................
1. Alat Dan Bahan.................................................................................
2. Waktu Dan Tempat...........................................................................
3.2 Metode....................................................................................................
1. Persiapan............................................................................................
2. Pelaksanaan.......................................................................................
BAB IV HASIL PENETASAN TELUR .....................................................
BAB V PENUTUP........................................................................................
LAMPIRAN – LAMPIRAN........................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
DAFTAR TABEL
Halaman
HALAMAN JUDUL
TABEL 1 : kapasitas Mesin ......................................................................
TABEL 2 : Periode Penetasan Telur ..........................................................
TABEL 3 : Proses Penetasa .......................................................................
TABEL 4 : Hasil Pemeriksaan
Telur Dan Penetasan Telur .....................
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
HALAMAN JUDUL
TABEL 1 : Jadwal Piket
Penetasan Telur .................................................
TABEL 2 : Catatan Temperatur Dan Pemutaran Telur ............................
TABEL 3 : Dokumentasi Hasil Penetasan
Telur .......................................
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
rangka peningkatan kemampuan mahasiswa dalam mata kuliah dasar ternak unggas, maka
dilakukan praktikum dengan materi penetasan telur ayam kampung menggunakan
mesin penetas sederhana. Mesin penetas system rak putar generasi terbaru alat
penetasan telur kapasitas kecil, yang bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi
penetasan dengan teknis yang jauh lebih praktis, mudah dan murah. Mesin penetas
mitra jaya dibuat dengan mengaplikasikan teknologi yang hanya dimiliki oleh mesin
penetas kapasitas besar, dengan berbagai keunggulan seperti efisiensi penetasan
tinggi, kemudahan pengoperasian, model artistic dan ringan. namun semua
keunggulan itu juga masih ditambah dengan harganya yang relative terjangkau, hal ini dikarenakan system
produksi yang mengandalkan manajemen dan analisa yang terencana dan matang
sehingga menghasilkan proses produksi yang sangat efisien dan efektif ( Anonim.
et al., 2013 )
Dengan
keprofesionalan kita antara kita bersama dalam melaksanakan heatcheting, semoga
akan mendapat hasil yang terbaik.
Kebutuhan masyarakat terhadap daging unggas terutama
ayam sangat tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin
meningkat. Sementara ketersediaan populasi ayam ( chicken population stock )
sangat berkurang. Berkurangnya populasi ayam tersebut disebabkan karena a). Penyakit,
dimana baru - baru ini unggas diserang oleh penyakit yang sangat ditakuti oleh
manusia yaitu flu burung. Flu burung ini ditakuti karena bisa menular ke
manusia dan bersifat mematikan. Sementara vaksinnya belum bisa ditemukan. b).
Kurangnya minat masyarakat dalam pembudidayaan unggas atau ayam, karena
perkembangan teknologi yang semakin canggih, menyebabkan manusia menjadi gengsi
dan manja untuk melakukan suatu usaha terutama pada pembudidayaan unggas
terutama ayam. ( Anonim. et al., 2003. )
Sehingga melihat permasalahan tersebut maka
ditemukanlah suatu cara untuk meningkatkan populasi ayam yaitu dengan cara
menetaskan telur. Penetasan telur ini merupakan suatu uapay untuk menyelsaikan
permasalahan kebutuhan unggas dimasyarakat baik kebutuhan untuk dikonsumsi
maupun kebutuhan untuk dibudidayakan. ( Antonius. et al., 2001 )
Penetasan telur ini menggunakan mesin tetas, dimana
fungsinya menggantikan induk asli dari unggas tersebut. Sementara system kerja
mesin tetas sama seperti system kerja induk, suhu dan kelembaban bisa diatur
oleh orang yang menetaskan. Namun kelebihan dari mesin tetas ini adalah mampu
menampung telur yang akan ditetaskan dalam jumlah yang banyak, dari 50 butir
sampai ribuan butir lebih. ( Anonim. et al., 2013 )
Akan tetapi menetaskan telur menggunakan mesin tetas
masih belum terlalu banyak diterapkan dimasyarakat, Karena mereka belum
memahami teknis penggunaan dari mesin tetas tersebut. Sehingga perlu pengkajian
tentang bagaimana cara menggunakan mesin tetas yang baik serta bagaimana cara
menetaskan telur. ( Antonius. et al., 2001 )
Mahasiswa terutama mahasiswa fakultas peternakan harus
melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang ada, perlu percobaan penetasan
telur. Oleh karena itu mahasiswa
melakukan praktikum penetasan telur pada mata kuliah teknologi penetasan telur.
( Anonim. et al., 2013. )
1.2 Maksud Dan Tujuan Praktikum
1.
Maksud diadakan
praktikum penetasan telur ayam kampung menggunakan mesin penetas sederhana
adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang cara dan tehnik
penetasan telur.
2.
Tujian diadakan
praktikum adalah untuk memberikan ketrampilan kepada mahasiswa dalam pengelolahan
penetasan telur.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Ayam Kampung
Ayam kampung adalah sebutan
di Indonesia bagi ayam peliharaan yang tidak ditangani dengan cara budidaya
massal komersial serta tidak berasal-usul dari galur atau ras yang dihasilkan
untuk kepentingan komersial tersebut. Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam
kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur
sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada
umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Aktivitas peternakan
ayam kampung telah ada sejak zaman dahulu. Ayam kampung merupakan salah satu
jenis ternak unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok
nusantara. Bagi masyarakat Indonesia, ayam kampung sudah bukan hal asing. ( Anonim. et al., 2003. )
Istilah "Ayam
kampung" semula adalah kebalikan dari istilah "ayam ras", dan
sebutan ini mengacu pada ayam yang ditemukan berkeliaran bebas di sekitar
perumahan. Namun demikian, semenjak dilakukan program pengembangan, pemurnian,
dan pemuliaan beberapa ayam lokal unggul, saat ini dikenal pula beberapa ras
unggul ayam kampung. Untuk membedakannya kini dikenal istilah ayam buras ( singkatan
dari "ayam bukan ras" ) bagi ayam kampung yang telah diseleksi dan
dipelihara dengan perbaikan teknik budidaya ( tidak sekadar diumbar dan
dibiarkan mencari makan sendiri ). Peternakan ayam buras mempunyai peranan yang
cukup besar dalam mendukung ekonomi masyarakat pedesaan karena memiliki daya
adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan pemeliharaannya relatif lebih
mudah. ( Riyanto. et al.,
2001 )
Sejarah ayam kampung dimulai
dari generasi pertama ayam kampung yaitu dari keturunan ayam hutan merah ( Gallus
gallus ). Jenis ayam kampung sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kutai. Pada
saat itu, ayam kampung merupakan salah satu jenis persembahan untuk kerajaan
sebagai upeti dari masyarakat setempat. Keharusan menyerahkan upeti menyebabkan
ayam kampung selalu diternakan oleh warga kampung dan menyebabkan ayam kampung
tetap terjaga kelestariannya. Di samping itu, ayam kampung memang sesuai dengan
selera masyarakat setempat. Kebiasaan beternak ayam kampung tersebutlah yang
menyebabkan ayam ini mudah dijumpai di tanah air. Sampai sekarang sistem upeti
dalam arti perpindahan barang ( ayam kampung ) dari desa ke kota masih tetap
ada. Bedanya, saat ini perpindahan tersebut lebih bersifat bisnis. ( Anonim. et al., 2003. )
2.2 Penetasan Telur
1. Pemilihan telur
Seleksi
telur yang akan ditetaskan sangatlah penting karena hal inilah yang menentukan berhasil
tidaknya penetasan ini. Hal inilah yang menentukan berhasil tidaknya penetasan
ini. Hal ini yang perlu di perhatikan dalam penyelesaian antara lain :
a)
Meiliki berat yang normal di bandingkan
dengan jenisnya ( untuk ayam kampung beratnya 40 - 43 gr/butir ).
b)
memiliki bentuk normal di bandingkan
dengan jenisnya ( untuk ayam kampong ) ukuran maksimal 3 : 4.
c)
Keadaan kulit telurnya bersih dari
kotoran.
d)
Rongga udaranya terlihat dengan jelas di
bagian tumpul dan tidak berpindah - pindah.
e)
Umur telur lebih dari 5 hari dan cara
penyampaiannya berat.
f)
Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8
tidak lebih.
g)
Umur induk jantan dan betina tidak boleh
berekurang dari 12 hari.
h)
Tidak terdapat kecacatan seperti retak, permukaan
yang terlalu kasar, camkang yang lembek. Penebalan kulit di suatu bagian kuning
telur dobel dll.
i)
Tidak berbau busuk atau sudah lama di
simpan ( ini harus segera di pisahkan dengan telur yang bagus ).
2. Faktor yang mempengaruhi kualitas
telur
1.
Asupan nutrisi pada indik memenuhi
syarat.
2.
Kesehatan induknya bagus ( tidak sedang
terserang penyakit ).
3.
Ratio induk jantan dan betinanya 1 : 8
tidak lebih.
4.
Umur induk jantan dan betina tidak boleh
kurang dari 12 bulan.
5.
Pola perkawinannya terkontrol atau
terhindar dari kawin sedarah ( inbreading terjadi rentang 6 generasi ).
3. Kapasitas mesin tetas
Tabel kapasitas mesin :
|
Tipe
|
Kapasitas
( ayam kampung
)
|
P X L X T
( cm )
|
Daya
listrik
|
Jenis
lampu
|
|
C 30
|
30 – 36 Butir
|
30 x 30 x 32
|
10 watt
|
Biasa
|
|
C 50
|
42 – 50 Butir
|
40 x 30 x 32
|
10 watt
|
Hiper
|
|
C 75
|
66 – 75 Butir
|
50 x 30 x 32
|
20 watt
|
Biasa
|
|
C 100
|
82 – 100 Butir
|
60 x 30 x 32
|
20 – 30 watt
|
Biasa
|
|
C 200
|
164 – 200 Butir
|
90 x 40 x 32
|
40 watt
|
Biasa
|
|
C 500
|
500 – 600 Butir
|
40 x 30 x 32
|
± 200 watt
|
Elemen
|
|
C 1.000
|
1000 – 1200 Butir
|
60 x 60 x 125
|
± 250 watt
|
Elemen
|
4. Keunggulan mesin penetas telur :
1.
Menggunakan sistem rak putar, pemutaran
semua telur dapat di lakukan dengan sekali mengoperasikan hendel dari luar (
tampa membalik satu persatu ).
2.
Rak telur terdiri dari penggabungan bahan alumunium dan rangka
plastik, dengan ram profil ‘ U , sangat baik dalam meratakan panas pada telur,
tahan karat, higenis, ringan dan akurat.
3.
Thermostat menggunakan rangka plastik,
penyetelan di lakukan dari lubang fentilasi dan fluktuasi suhu sekitar 100 - 1050C
sehingga aman digunakan, lebih akurat
dan praktis.
4.
Pemanas darurat dengan plat pemanas,
cukup memakai lampu minyak/ lilin.
5.
Dapat di gunakan berbagai jenis dan
ukuran telur unggas, dari bebek, ayam, puyuh, dara, perkutut, wallet, dll, (
untuk ukuran telur burung, rak dapat di pesan khusus ).
6.
Desain lebih artistik, indah, variatif
dan ringan.
5. Tambahan
Standar
untuk suhu dalam incubator “ penetasan ’’ tipe forced air adalah 100 untuk
jenis forced – air incubators dan 102. Untuk type still - air
incubatos, suhu pada incubator penetas ( hatching ) di 1 lebih rendah di
bandingkan dengan incubator “ pengeraman ” selama 3 hari sebelum penetasan.
Sedangkan
untuk type still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi
bagian atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak
diletakkan diatas telur atau diluar
bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator
juga harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
BAB III
MATERI DAN
METODE
3.1
Materi
1. Alat
dan bahan
a.
Alat yang digunakan
Ø Mesin
tetas
Ø Kain
lap
Ø Bak
air
Ø Termometer
Ø Lilin
Ø Teropong
telur
Ø Korek
api
Ø Gunting
Ø Obeng
Ø Lak
ban
b. Bahan
yang digunakan
Ø Alcohol
96 %
Ø Air
hangat
Ø Desinfektan
( INCUNOL )
Ø Air
Ø Telur
Ø Kapur
ajaib
Ø Deterjen
Ø Sunlight
2. Waktu dan Tempat
a.
Waktu pelaksanaan praktikum akan dilakukan
pada bulan April - Mei 2014.
b.
Tempat pelaksanaannya dilakukan di
laboratorium biokimia fakultas pertanian unaversitas samawa ( UNSA ) sumbawa
besar.
3.2 Metode
1. Persiapan
· Persiapan
mesin
v Langkah
persiapan
a) Hubungkan
mesin dengan daya listrik, perhatikan apakah lampu telah menyala dengan normal,
jika tidak ganti segera.
b) Bak
air diisi 1/4 bagian
dengan air bersih.
c) Mesin
disetel dengan suhunya atau kelembabannya, dengan mengatur termostatnya.
Caranya buka lubang fentalasi, posisikan
baut sehingga berada tepat ditenga lubangnya, jika suhu kurang putar baut
kekiri dan jika terlalu panas putar kekanan perhatikan jarak suhu ketika mati
dan hidup fluktasinya maksimal 1020 F ( amati pula perbedaan pada
siang dan malam ). Suhu sekitar 1060 F untuk 30 menit dapat
mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada telur dibawah 900F
untuk 3 sampai 4 jam akan memperlambat perkembagan embrio didalam telur. Kelembaban
55 – 66% jika kurang dari itu ditambahkan spons basah dibak air, atau ditepi
dalam mesin untuk sprey dengan air hangat ( kelembaban yang dibutuhkan berbeda
setiap spesies ).
d) Menstabilkan
kondisinya kurang lebih 3 jam ( usahakan ditempatkan diruangan yang tertutup
namun cukup fentilasi ).
e) Telur
ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul diatas.
f) Suhu
dan kelembaban dicontrol kembali hingga stabil.
2.
Pelaksanaan
· Persiapan
telur
a. Seleksi
kualitas telur
Semua ciri – ciri telur berkualitas
harus di penuhi dan faktor yang mempengaruhi kualitas telur yang di perbaiki
dan di penuhi.
b. Perlakuan
pada telur penetasan
1. Telur
yang akan di tetaskan di seleksi sesuai pedoman.
2. Telur
yang akan di tetaskan di bersihkan dengan desinfektan seperti air hangat,
alcohol 70% , formalib 40%, incunol 75% dan kalium permanganate ( KMNO4
) atau jenis desinfektan lainnya secara berlahan dengan menggunakan spons atau
kain katun sebagai pembersihnya. ( Awas ! jangan menggunakan kertas gosok /
amplas untuk membersikannya ).
3. Telur
yang akan di tetaskan di simpan dengan kisaran suhu 1010 C – 1050
C dan kelembaban 55 – 60 %. Cara penyimpanan telur yang benar adalah
rongga udara berada di atas ( Awas ! penyimpanan jangan sampai 5 hari setelah
keluarnya telur dari induknya ).
c. Priode
penetasan ayam
|
Kasus
|
Ayam
|
|
Waktu netas ( hari )
Stop pemutaran ( hari )
Tempelatur ( 0F )
Kelembaban ( % )
|
21
18
100 – 103
55 – 60
|
d.
Proses penetasan
1.
Yakinkan posisi telur pada rak benar (
jika ruang pada rak masih ada isi dengan spons atau kain, sehingga tidak
berantakan ).
2.
Posisikan thermometer ataupun hygrometer
pada rak, di antara telur sehingga dapat dengan mudah di pantau melalui kaca.
3.
Durasi pembalikan rak. ( untuk telur ).
|
No
|
Hari ke
|
Perlakuan
|
|
1.
|
1 – 3
|
Posisi rak datar ( jangan diputar ) .
|
|
1.
2.
|
4 – 18
|
Telur dibalik 3 – 8 kali sehari dengan durasi seimbang.
|
|
2.
3.
|
19 – 21
|
Posisi rak di datarkan kembali dengan ,menunggu
penetasan.
|
4.
Durasi candling untuk di lakukan
sebanyak 2 kali yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 14. Untuk telur yang tidak
menampakan ciri – ciri telur fertil sehingga di culling atau di ambil. Karena
jika sampai mengalami pembusukan akan mempengaruhi telur yang lain. ( Proses
ini dapat di lakukan dengan menggunakan teropong telur ).
5.
Durasi pembukaan lubang fentilasi ada 4
periode pada hari 1 – 3 tidak boleh di buka, hari ke 4 di buka ¼ bagian. Hari ke 5 di buka ½ bagian, hari
ke 6 di buka ¼ bagian dan hari ke 7 hingga menetas di buka penuh.
6.
Perlakuan saat keadaan darurat.
a.
Saat listrik putus, letakkan lilin atau
lampu minyak plat di bawah mesin, ambil bak air untuk sementara dan letakkan 2
tuas kayu kecil panjang di antara plat lalu masukkan kembali bak air sehingga
tidak kontak langsung dengan plat di bawahnya. ( lakukan proses ini dengan
cepat atau usahakan suhunya tetap stabil ).
b.
Saat suhu tidak kunjung naik, ganti
lampu dengan watt yang lebih besar, untuk 5 watt kecil ganti dengan 5 watt
hiper, 5 watt hiper ganti dengan 10 watt dan seterusnya.
c.
Saat lampu pada mesin mati, amati apakah
lampunya putus jika benar segera ganti. Amati apakah capsul atau ada benda lain
yang menekan mikroswich jika benar atur kembali. Jika bukan masalah itu berarti
ada kabel yang putus ( Untuk sementara saat ini anda dapat menggunakan pemanas
darurat atau gunakan mesin cadangan ).
d.
Saat air pada bak tumpah dalam mesin,
cabut aliran listrik untuk sementara, serap air pada mesin dengan spons. Pastikan
bagian elektroniknya kering, hidupkan kembali mesin. ( Jika air yang tumpah
tidak segera di tangani akan merusak bagian mesin).
e.
Saat kapsul tidak bisa mengembang, amati
apakah ada baut menyengat dalam mesin
keluar dari kapsul jika benar kapsul telah bocor. segera ganti dengan
yang baru.
f.
Saat anak ayam yang baru menetas di serang
semut atau serangga lain, usahakan serangga di dalam keluar dan letakkan
penampung air di kaki mesin serta hindari menempel dengan dinding. Bisa juga
menggunakan insektisida di luar mesin ( Awas ! ! jangan sampai mengenai telur
maupun anak ayam ).
g.
Perlakuan pada DOC / DOD pasca penetasan
Perlakuan
pada DOC / DOD dll. Pasca penetasan antara lain pada umur sehari beri
vaksinasi ND dan gurnboro untuk
meningkatkan daya tahan tubuh. Letakkan pada kotak yang aman dan telah di beri
lampu dengan suhu di dalam, Beri pakan BR – 1 ( pakan khusus starter ). Air
minum dan beri batu atau sebagainya pada
tempat airnya agar anak ayam tidak masuk dalam air atau mati. Jemur pada saat
pagi hari dan pastikan kondisinya aman dari predator.
BAB IV
HASIL
PEMERIKSAAN TELUR DAN PENETASAN TELUR
|
Hari/tgl
|
Jumlah telur
|
Telur fertil
|
Telur tidak fertil
|
Jumlah telur menetas
|
|
Senin
05-05-2014
Hari
ke 7
|
30
|
28
|
2
|
-
|
|
Senin
12-05-2014
Hari ke 14
|
28
|
26
|
2
|
-
|
|
Rabu
23-05-2014
Hari ke 23
|
-
|
-
|
-
|
2
|
|
Kamis
24-05-2014
Hari ke 24
|
-
|
-
|
-
|
6
|
|
Jum’at
25-05-2014
Hari ke 25
|
-
|
-
|
20
|
-
|
Ø Peneropangan Pertama ( I )
Peneropangan
pertama dilakukan pada hari senin praktik ke 7, jam 20.00 – 22.00 wita, dari
data peneropangan yang pertama jumlah telur 30 butir, sedangkan telur fertil
dari hasil peneropongan berjumlah 28 butir telur dan yang tidak fertil
berjumlah 2 butir. Telur yang tidak
fertil ini disebabkan telur tidak terdapat pembuluh darah atau akar didalam
telur, telur tidak fertil atau tidak dibuahi ( perbaiki manajemen pemeliharaan
bibit ) dan telur dibuahi, namun embrio telah mati ( periksa posisi telur, sisi
tumpul harus diatas ). Berpengaruh juga pada saat pembawaan telur sebelum
dimasukkan dalam mesin tetas dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus
:
Fertilitas = Telur fertil x 100 % ,
Jumlah telur
Dik
: Jumlah telur 30 butir
Telur
fertil 28 butir
Telur
tidak fertil 2 butir
Dit
: Berapa persentase daya tetas telur
tersebut ?
Penyelesaian
:
= Telur
fertil x 100 % = Telur tidak fertil x 100 %
Jumlah telur jumlah telur
= 28 x 100 % = 2 x
100 %
30 30
= 0 , 93 x 100 % = 0,66 x 100 %
= 93 % = 7 %
Ø Jadi
daya tetas seluruhnya adalah 100 %
Jadi jumlah persentase telur dari telur yang
fertil pada peneropongan pertama adalah 93%. Hasil persentase ini diperoleh
dari jumlah telur fertil dibagi jumlah hasil peneropongan pertama dan dikali
daya tetas telur adalah 28 dibagi 30 dikali 100 % sama dengan 93%.
Dan jumlah persentase telur dari telur
tidak fertil pada peneropongan pertama adalah 7%. Hasil persentase telur
tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil dibagi jumlah telur
haasil peneropongan pertama dan dikali
daya tetas telur adalah 2 dibagi 30 dikali 100 % sama dengan 7 %.
Jadi kesimpulan yang dapat diambil dari
peneropongan 1 ( pertama ) adalah saat mencari telur di kampung induk ayam yang
kami datangi tidak dipelihara secara baik dan kualitas telur juga ada yang
berbentuk bulat, lonjong dan lancip. Adapun kendala yang dihadapi pada saat
telur dibawah menggunakan kantong plastik yang ditempatkan dalam kotak kecil,
sehingga tidak menutup kemungkinan telur yang dibawah mengalami goncangan. Hal
ini juga dapat mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur.
Ø Peneropangan Kedua ( II )
Peneropangan
kedua dilakukan pada hari ke 14, jam 19.00 – 20.00 wita, dari data
peneropangan 21 butir yang kami teropong
terdapat telur fertil 15 butir telur dan yang tidak fertil 6 butir. Telur yang tidak fertil ini disebabkan telur dibuahi
namun banyak embrionya mati, temperatur salah ( biasanya terlalu panas )
periksa akurasi termometer, letakkan ditempatnya, pemutaran telur maksimal (
putar telur minimal 3 kali sehari dan maksimal 8 kali sehari ), kekurangan
oksigen ( dataran tinggi O2 tipis ) jangan letakkan mesin tetas
diruang tanpa cukup fentilasi, bibit telur kurang baik ( perbaiki manajemen
pemeliharaan bibit dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung menggunakan
rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus :
Fertilitas =
Telur fertil x 100 % ,
Jumlah telur
Dik : Jumlah
telur 28 butir
Telur
fertil 26 butir
Telur
tidak fertil 2 butir
Dit : Berapa
persentase daya tetas tersebut ?
Penyelesaian :
= Telur
fertil x 100 % =
Telur tidak fertil x 100 %
Jumlah telur Jumlah telur
= 26 x
100 % = 2 x
100 %
28 28
= 0,93 x 100 % =
0,07 x 100 %
= 93 % =
7 %
Ø Jadi
daya tetas seluruhnya adalah 100 %.
Jadi jumlah persentase telur dari telur
yang fertil pada peneropongan kedua adalah 93 %. Hasil persentase ini diperoleh
dari jumlah telur fertil dibagi jumlah hasil peneropongan kedua dan dikali daya
tetas telur adalah 26 dibagi 28 dikali 100 % sama dengan 93 %.
Dan jumlah persentase telur dari telur
tidak fertil pada peneropongan kedua adalah 7 %. Hasil persentase telur
tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil dibagi jumlah telur
hasil peneropongan kedua dan dikali daya
tetas telur adalah 2 dibagi 28 dikali 100 % sama dengan 7 %.
Jadi kesimpulan yang dapat kami ambil
pada saat peneropongan ke 2 adalah adanya kendala listrik yang sering mati
kerena kurangnya daya di kampus dan yang menjadi pengaruhnya juga suhu yang
sering naik turun sehingga telur yang ada didalam mesin tetas mengalami
perubahan suhu atau kelembaban, pada saat pembalikan telur ada serangga yang
masuk ( predator ) saat dikeluarkan rak telur dan lama penutupan pintu mesin
tetas saat itulah serangga masuk sehingga ada telur yang busuk karena serangga
itu mati dalam mesin tetas (incubator) tersebut. Apabila telur yang busuk
tersebut lama dikeluarkan dapat mempengaruhi telur yang lain, dalam proses
perkembangan embrio.
Ø Hasil Penetasan Telur
Penetasan telur pada hari ke 23 - 24 dari hasil
praktek kami memperoleh telur netas 10 butir telur dan yang mati di dalam
cangkang telur 5 butir telur. Telur yang tidak menetas disebababkan telur
berisi embrio, tetapi tidak menetas, Kelembaban kurang (Periksa air, tambah
spons di bak dan atau spray telur dengan air ), bibit kurang baik ( perbaiki
manajemen pemeliharaan bibit ). Telur menetas terlalu lambat atau cepat , lebih
dari atau kurang dari normalnya, temperatur terlalu tinggi atau rendah (
periksa akuransi thermometer ). Anak ayam yang lama menetas, lumpuh atau cacat
dan ada noda darah, bibit kurang baik atau lemah ( perbaiki manajemen
pemeliharaan bibit ) dan daya tetas telur tersebut dapat dihitung menggunakan
rumus sebagai berikut :
Daya tetas 100 %
Rumus :
Fertilitas = Telur fertil x 100 % ,
Jumlah telur
Dik : Jumlah
telur 28 butir
Telur netas 8 butir
Telur
tidak fertil 20 butir
Dit : Berapa
persentase daya tetas tersebut ?
Penyelsaian :
= Telur netas
x 100 % =
Telur tidak fertil x 100 %
Jumlah telur Jumlah telur
= 8 x 100
% = 20 x 100 %
28 28
= 0,29 x 100 % =0,71 x 100 %
= 29 % =
71 %
Ø Jadi daya tetas
seluruhnya adalah 100 %
Jadi
jumlah persentase telur dari telur yang tidak meneetas pada penetasan telur
adalah 29 %. Hasil persentase ini diperoleh dari jumlah telur yang menetas
dibagi jumlah telur hasil penetasan dan dikali daya tetas telur adalah 8 dibagi
28 dikali 100 % sama dengan 29 %.
Dan
jumlah persentase telur dari telur tidak fertil pada penetasan adalah 71 %.
Hasil persentase telur tersebut diperoleh dari jumlah telur yang tidak fertil
dibagi jumlah telur hasil penetasan dan dikali
daya tetas telur adalah 20 dibagi 71 dikali 100 % sama dengan 71 %.
Jadi
kesimpilan yang dapat kami ambil saat telur menetas adalah kendalah listrik
yang sering mati sehingga berpengaruh temperatur suhu atau temperatur yang
menjadi naik turun, sehingga mempengaruhi perkembangan embrio di dalam telur.
Hal ini mengakibatkan telur yang menetas kurang sempurna karena tidak bisa
menembus cangkang secara sempurna, namun demikian beberapa telur ada juga yang
menetas sempurna.
Ini
dikarenakan pemilahan bibit yang kurang baik karena usaha pemeliharaan ayam
kampung di sumbawa ataupun dipedesaan belum banyak mempertimbangkan aspek
keuntungan, pemeliharaan ayam kampung belum diupayakan oleh peternak agar dapat
berproduksi secara optimal. Sistem pemeliharaan ayam kampung masih diusahakan
oleh sebagian orang yang berada di wilayah pedesaan dengan keterbatasan
penguasaan sumberdaya ( lahan, pendapatan, inovasi dan teknologi ). Keadaan
demikian menunjukkan bahwa pola usaha beternak ayam kampung belum merupakan
usaha komersial. Yakni merupakan usaha sampingan yang ditandai dengan skala
usaha relatif kecil dan tatalaksana pemeliharaan seadanya.
BAB V
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Dengan praktikum yang telah kami
lakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa banyaknya telur yang tidak menetas
disebabkan karena kualitas telur yang tidak baik dan tempat telur di peroleh
kurang baik ataupun cara pemeliharaannya kurang baik. Selain itu yang
menyebabkan telur tidak menetas adalah karena pada saat pembawaan telur kurang
baik karena tidak menggunakan sekam tapi dibawa dengan kantong plastik dan
kemudian dipindahkan ke tre, sehingga telur mendapat goncangan.
Permasalahan yang lain pada saat
penetasan adalah kendalah listrik yang sering mati sehingga berpengaruh
temperatur suhu atau temperatur yang menjadi naik turun, sehingga mempengaruhi
perkembangan embrio di dalam telur. Hal ini mengakibatkan telur yang menetas
kurang sempurna karena tidak bisa menembus cangkang secara sempurna, namun
demikian beberapa telur ada juga yang menetas sempurna.
Ini dikarenakan pemilahan bibit yang
kurang baik karena usaha pemeliharaan ayam kampung disumbawa ataupun dipedesaan
belum banyak mempertimbangkan aspek keuntungan, pemeliharaan ayam kampung belum
diupayakan oleh peternak agar dapat berproduksi secara optimal. Sistem
pemeliharaan ayam kampung masih diusahakan oleh sebagian orang yang berada di
wilayah pedesaan dengan keterbatasan penguasaan sumberdaya ( lahan, pendapatan,
inovasi dan teknologi ). Keadaan demikian menunjukkan bahwa pola usaha beternak
ayam kampung belum merupakan usaha komersial. Yakni merupakan usaha sampingan
yang ditandai dengan skala usaha relative
kecil dan tatalaksana pemeliharaan seadanya.
b.
Saran
Untuk praktikum penetasan telur yang
selanjutnya agar penetasanya mendapat hasil yang baik dan sempurna, pada saat
pemilihan telur harus memilih telur yang mempunyai kualitas yang baik dan pada
saat membawa telur harus menggunakan sekam dan membawanya dengan hati – hati
agar telur tidak mendapat goncangan.
Dan pada saat pemilihan telur pilihlah telur yang
beratnya seragam dan bentuknya tidak terlalu lonjong, dan pilih telur yang
cangkangnya yang tidak terlalu tebal karna apabila cangkangnya tebal akan sulit
bagi DOC untuk memecahkan cangkangnya dan jangan memilih telur yang cangkangnya
terlalu tipis karena kuman bisa masuk dengan mudah dan cepat retak.
LAMPIRAN - LAMPIRAN
TABEL 1. JADWAL PIKET PENETASAN TELUR
|
Hari/tgl
|
Nama mahasiswa
|
Catatan kejadian
|
|
Sabtu
26-04-2014
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Melakukan pengecekkan mesin
Ø Membersihkan mesin tetas dengan menggunakan alkohol
96% dan menggunakan desinfektan ( incunol ) anti septik untuk mesin tetas
telur dan telur tetas.
Ø Melakukan pengaturan suhu harus konstan 1000C
- 1050C dan kelembaban 55 – 60 % selama 3 jam sebelum memasukkan
telur. Jam 04 : 00 wita.
|
|
Selasa
29-04-2014
Hari ke 1
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Membersihkan telur menggunakan larutan incunol
sebagai anti seftik untuk membunuh bakteri pada cangkang telur.
Ø Setelah membersihkan telur, kemudian menganginkan
selama 1 jam sebelum memasukkan dalam mesin tetas, memasukkan telur dalam mesin tetas pukul 16 : 00 – 16 : 45.
Ø Telur ditata pada rak alumunium dengan bagian tumpul
di atas.
Ø Melakukan pengaturan suhu harus konstan 1000C
- 1050C dan kelembaban 55 – 60 %.
Ø Menaroh air dalam mesin tetas menggunakan bak air.
Ø Posisi rak dasar ( jangan dibalik ).
Ø Lubang fentilasi tidak bole dibuka.
|
|
Rabu
30-05-2014
Hari ke 2
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Pengecekan suhu hingga konstan sekitar 1000C
- 1050C.
Ø Mesin tasas tidak boleh dibika hingga hari ke 4.
Ø Posisi rak dasar ( jangan dibalik )
Ø Lubang fentilasi tidak bole dibuka.
|
|
Kamis
1-05-2014
Hari ke 3
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga hari ke 4.
Ø Posisi rak dasar ( jangan dibalik )
Ø Lubang fentilasi tidak bole dibuka.
|
|
Jum’at
2-05-2014
Hari ke 4
|
1.
Eka susanti
2.
Bahtiar
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ¼ bagian.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
|
|
Sabtu
03-05-2014
Hari ke 5
|
1.
Dian satriana
2.
Bayu saputra
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ½ bagian.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
|
|
Minggu
04-05-2014
Hari ke 6
|
1.
Lina fitri
2.
Hamdan ade s.
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Mengecek suhu dan membuka lubang fentilasi ¼ bagian.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
|
|
Senin
05-05-2014
Hari ke 7
|
1.
Ketua
2.
Anggota
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Mengecek suhu.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Melakukan peneropongan pertama pada hari ke 7 pada
pukul 20.00 – 21.20 wita.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Selasa
06-05-2014
Hari ke 8
|
1.
Letisia
2.
Hermansyah
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Mengecek suhu.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Rabu
07-05-2014
Hari ke 9
|
1.
Eka susanti
2.
Dangan abdan
s.
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Kamis
08-05-2014
Hari ke 10
|
1.
Lina fitri
2.
Bahtiar
3. Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Jum’at
09-05-2014
Hari ke 11
|
1.
Dian satriana
2.
Heru arwin
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Penambahan air.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Sabtu
10-05-2014
Hari ke 12
|
1.
Letisia
2.
Heriandani
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Minggu
11-05-2014
Hari ke 13
|
1.
Hermansyah
2.
Danang abdan
s.
3.
Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan
telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Senin
12-05-2014
Hari ke 14
|
1. Bayu saputra
2. Danang abdan s.
3. Gunawan
|
Ø Penganginan telur 15 menit, pembalikkan telur dan
pengecekkan suhu.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
Ø Melakukan peneropongan kedua pada hari ke 14 pada
pukul 19.00-20.00 wita.
|
|
Selasa
13-05-2014
Hari ke 15
|
1. Eka susanti
2. Heriandani
3. Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Penggantian air kerna ada binatang yang masuk dan
mengotori bak air.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Rabu
14-05-2014
Hari ke 16
|
1. Letisia
2. Danang abdan s.
3. Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Kamis
15-05-2014
Hari ke 17
|
1. Dian satriana
2. Hamdan ade s.
3. Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses pembalikkan
telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Jum’at
16-05-2014
Hari ke 18
|
1. Lina fitri
2. Bayu saputra
3. Gunawan
|
Ø Menganginkan telur selama 15 menit pada proses
pembalikkan telur dengan kemiringgan 450.
Ø Telur di balik 6 kali sehari dengan durasi seimbang.
Ø Pentilasi dibuka penuh.
|
|
Sabtu
17-05-2014
Hari ke 19
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.
|
|
Minggu
18-05-2014
Hari ke 20
|
1.
Ketua
2.
Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.
|
|
Senin
19-05-2014
Hari ke 21
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.
|
|
Selasa
20-05-2014
Hari ke 22
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.
|
|
Rabu
21-05-2014
Hari ke 23
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengecek suhu.
Ø Telur menetas.
|
|
Kamis
22-05-2014
Hari ke 24
|
1.
Ketua
2.
Anggota
|
Ø Mengatur dan mengecek suhu hingga konstan.
Ø Mesin tetas tidak boleh dibuka hingga menetas.
|
|
Jum’at
23-05-2014
Hari ke 25
|
1. Ketua
2. Anggota
|
Ø Mengecek suhu.
Ø Telur menetas
|
|
|
|
|
TABEL. 2 CATATAN TEMPERATUR DAN PEMUTARAN TELUR
|
Hari/tgl
|
Temperatur
|
Kelembaban
|
Pemutaran Telur
|
||
|
Pagi
|
Siang
|
Malam
|
|||
|
Selasa
29-05-2014
Hari ke 1
|
102oF
|
55-60 %
|
-
|
-
|
-
|
|
Rabu
30-05-2014
Hari ke 2
|
102oF
|
55-60 %
|
-
|
-
|
-
|
|
Kamis
01-05-2014
Hari ke 3
|
102oF
|
55-60 %
|
-
|
-
|
-
|
|
Jum’at
02-05-2014
Hari ke 4
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Sabtu
03-05-2014
Hari ke 5
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Minggu
04-05-2014
Hari ke 6
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Senin
05-05-2014
Hari ke 7
|
104oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Selasa
06-05-2014
Hari ke 8
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Rabu
07-05-2014
Hari ke 9
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Kamis
08-05-2014
Hari ke 10
|
100oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Jum’at
09-05-2014
Hari
ke 11
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Sabtu
10-05-2014
Hari ke 12
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Minggu
11-05-2014
Hari ke 13
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Senin
12-05-2014
Hari ke 14
|
104oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Selasa
13-05-2014
Hari ke 15
|
104oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Rabu
14-05-2014
Hari ke 16
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Kamis
15-05-2014
Hari ke 17
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Jum’at
16-05-2014
Hari ke 18
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Sabtu
17-05-2014
Hari ke 19
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Minggu
18-05-2014
Hari ke 20
|
102oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Senin
20-05-2014
Hari ke 21
|
104oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
|
Selasa
21-05-2014
Hari ke 22
|
103oF
|
55-60 %
|
07-00
10-00
|
13-00
16-00
|
19-00
22-00
|
LAMPIRAN
- LAMPIRAN
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
|
Ø Hasil penetasan telur
|
|
|
Ø Telur yang gagal menetas
|
|
|
Ø
Telur menetas
|
|
|
Ø
Telur yang non fertil ( telur yang rusak atau embrionya mati didalam
telur )
|
|
|
Ø
Proses pembersian telur menggunakan incunol.
|
|
|
Ø Saat menaru telur ayam ke rak alumunium.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Anonym, 2010. penetasan telur dengan mesin tetas. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/mesin_tetas.htm
diakses pada tanggal 20 Desember 2010).
Anonym, 2010. Tips menetaskan telur.
http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm di akses pada tanggal 20
Desember 2010.
Bell D.J. and Freeman B.M., 1971. Physiology and Biochemistry of the
Domestic Fowl. Volume 3. Academic Press. London New York.
Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.
James Blakely and David H. Bade, 1985. Ilmu Peternakan. Edisi keempat.
Gadjah.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta: Kanisius.
Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta:
Andromedia Pustaka.
Andromedia Pustaka.
Sudaryani dan Samosir, 1997. Mengatasi Permasalahan Beternak Ayam.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar